Dirikan Sanggar Seni di Wagir

KECINTAAN dalam dunia seni mengalir deras dalam diri Afik Noerfandi, S.Pd, guru SMP Kartika IV-8. Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Malang (UM) menjadi wadah penting yang memompanya hingga saat ini.
Wujud cintanya terhadap seni tak hanya dapat dilihat dari keseharian Afik. Namun juga nampak dari Sanggar yang didirikannya beberapa tahun silam, bernama Budi Luhur berlokasi di Wagir Kabupaten Malang.
“Semua seni saya suka, khususnya musik, tari, dan busana. Namun di sanggar, juga ada lukis bahkan beberapa kali juga membuat topeng malangan,” ujar Afik.
Sanggar yang dimilikinya tersebut dibuka tahun 2012 lalu. Sampai saat ini anak didiknya yang aktif berjumlah 12 anak berasal dari beberapa sekolah. Ia bersama sang istri membina mereka dengan berbagai bakat mulai tari lukis, dan musik khususnya musik gamelan band.

“Saya suka mengajar seni kepada semua siswa dari berbagai sekolah, saya ajarkan secara global kemudian saya pilih satu yang memiliki bakat paling menonjol untuk belajar di sanggar Budi Luhur,” terangnya.

Menurutnya, seni bisa dijadikan sebagai sarana rekreasi. Apabila penat dengan rutinitas kerjaan setiap hari maka seni adalah solusi yang tepat baginya untuk menghilangkan kepenatan. Terlebih saat ia menciptakan sebuah karya dengan hasil yang bagus dan jika dilombakan mendapat juara maka segala stress dipikiran seketika hilang.
“Karya yang sampai saat ini membuat saya merasa paling berkesan adalah ketika membuat busana dari daur ulang kertas semen yang dijadikan gaun. Kemudian di warna batik, sehingga gaun tersebut selain bernilai estetika juga mengandung budaya lokas asli Indonesia,” jelas Afik.
“Hidupilah seni dan jangan mencari dari seni” menjadi prinsip Afik dalam berseni yang hingga kini masih dipegang erat-erat.
“Kalau kita kerja melalui seni itu tidak bisa, tetapi kalau kita menghidupi seni itu pasti bisa, bukan malah mencari uang, baru kesenian itu akan berkembang dalam diri kita,” pungkasnya. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :