Apoteker dan Notaris, Prodi Baru Vokasi UIN Maliki


MALANG – Program vokasi memang tengah digencarkan Menristekdikti bagi perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Setelah sebelumnya UM dan UMM membuka jurusan vokasi, kali ini UIN Maliki juga turut serta membuka jurusan vokasi. Dua prodi jenjang vokasi tengah disiapkan yakni apoteker dan notaris.
“UIN Maliki juga akan membuka vokasi untuk prodi Apoteker dan Notaris. Ini sebenarnya sudah diajukan tapi belum turun. Kalau bisa ya tahun depan,” ujar Rektor UIN Maliki Malang, Prof Haris kepada Malang Post kemarin.
Dia mengaku turut mendukung program Menristekdikti dengan program vokasi di perguruan tinggi. Sebab, jurusan vokasi ini akan mengajarkan mahasiswa siap kerja sehingga mampu mengurangi pengangguran.
“Bahkan menurut saya, semua program studi perguruan tinggi harus menciptakan lulusan yang ready for use,” tandasnya.
Sehingga UIN Maliki juga akan menyiapkan kurikulum yang mendukung pendidikan vokasi. Haris menegaskan, dua prodi jenjang vokasi ini nantinya akan siap tahun depan. Tak hanya itu, pihaknya juga akan menunjang perkuliahan di universitas dengan  menyiapkan program profesi psikolog bagi jenjang S2.
“Selain itu, kami juga menyiapkan program profesi psikolog, selain bergelar master, lulusan juga siap menjadi psikolog sebab ditunjang dengan sertifikasi profesi tersebut,” bebernya.
Bahkan dengan bersemangatnya membuka vokasional, nantinya Haris berharap prodi yang ada di UIN diarahkan ke vokasi. Terkait peminatan calon mahasiswa, menurutnya vokasi tengah trend sebab menawarkan keterampilan siap kerja. “Jika perguruan tinggi dapat menjelaskan ke pengguna jasa pendidikan vokasi maka semua juga akan berminat,” singkatnya.
Sementara itu, dengan gebrakan jenjang vokasi pada beberapa perguruan tinggi di kota Malang, jenjang SMK merasa terwadahi. Hal ini dijelaskan oleh Kepala SMKN 11 Malang, Drs Gunawan Dwiyono SST MPd, dia mengaku vokasi merupakan pendidikan kejuruan yang mempelajari banyak sektor real. “Biasanya para akademisi yang mempelajari ilmu pengetahuan, memiliki intelektual tinggi dan mampu meneliti akan melanjutkan ke jenjang tersebut,” tuturnya.
Meski begitu, Gunawan juga mengungkapkan bahwa kompetensi lulusan vokasi di perguruan tinggi dengan di SMK tidak jauh berbeda. Perbedaan tersebut hanya pada jenjang saja. Bahkan menurutnya, mereka yang akan masuk vokasi di perguruan tinggi akan mengulang materi pelajaran di SMK.
“Sama seperti mengulang materi pelajaran di SMK, hanya saja beda jenjang saja. Jika lulusan SMK melahirkan tenaga kerja pertama level satu, tapi di perguruan tinggi langsung masuk level tiga. Lulusan SMK saat ditest tidak menutup kemungkinan akan masuk level tiga, tergantung kompetensi dan kemampuan wirausaha yang bagus,” tutupnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :