Kelas Sinau Mafi Fest Tingkatkan Jejaring


 
MALANG – Selain kompetisi Mafi Fest 2018, Kine Klub UMM juga melengkapi festival film dengan program terbaru kelas sinau. Kelas sinau yang didampingi juri ini mengedukasi peserta untuk mengembangkan ide gagasan dalam membuat program film. Nantinya, mereka dapat mengembangkan jejaring sekaligus pelaksanaan festival film setiap daerah. 
“Di era digitalisasi, anak muda masa kini dapat mudah membuat film. Namun jangan sampai karya film hanya berhenti pada proses pembuatannya saja, melainkan harus dikembangkan dengan program lain salah satunya presentasi gagasan film seperti yang dilakukan di kelas sinau ini,” ujar Juri Film Fiksi Mafi Fest 2018, Lulu Ratna kepada Malang Post.
Dia melanjutkan, even ini lengkap dengan kelas sinau yang membebaskan akses pembuat film dapat bertemu antar komunitas film dan mengembangkan ide gagasan film yang dibuat. Kelas sinau menjadi ajang yang menunjang Mafi Fest 2018 sebagai mediator festival berikutnya di daerah lain terselenggara. 
“Penonton tidak hanya menonton, harus ada dialog lebih untuk mengumpulkan program dan gagasan atas issue yang dibawa dari 416 film yang diterima,” ungkapnya.
Hari kedua kelas sinau bersama Lulu Ratna ini, sebelumnya peserta telah diedukasi terkait peran kurator dan programmer dalam membuat program dan karya film yang terbaik ditonton. Keduanya memiliki peran penting dalam membuat penonton ikut belajar dari film.
“Dalam penyusunan film, bingkainya yang penting. Meski programmer setiap tahun akan berganti, tapi mereka harus membawa misi dan visi yang sama. Saya sendiri sampai sekarang masih belajar,” tandasnya.
Pada pelaksanaan kelas sinau, peserta akan harus memilih minimal tiga film dari 15 film lokal yang ditayangkan panitia. Film-film tersebut kemudian harus dipaparkan peserta, sekaligus dengan program yang nantinya akan mereka ajukan sesuai tema. Seperti salah satu peserta kelas sinau, Antonius Willson dari FTV UMN ini yang memilih empat film dan menyusunnya sesuai program ide yang diinginkan.
“Saya sangat tertarik membahas kids zaman now. Dalam empat film yang saya pilih, saya ingin mengedukasi penonton dari segala usia. Bahwa besarnya pengaruh gadget terhadap kehidupan. Hal ini umum dan banyak dirasakan,” sekilas papar Antonius di kelas sinau. 
Setelah era reformasi, perkembangan dunia perfilman terus berkembang pesat. Hal ini ditunjang dengan perangkat sinematografi canggih, sehingga tidak hanya sineas saja, pelajar juga mulai sadar informasi dan berani menghasilkan karya film di sekolah.
Mengingat bioskop Indonesia yang tidak menayangkan produk film daerah, sehingga diharapkan output dari kelas sinau mampu menunjang jejaring antar sesama komunitas di berbagai daerah. Selain itu, pentingnya memberlakukan standart yang sama juga diperlukan dari komunikasi antar jejaring ini.
“Inilah fungsinya kelas sinau, kita bisa menonton karya film lokal disetiap daerah tanpa mencari satu-satu, sebab telah tercipta jejaring antar komunitas tadi,” tutup Dosen yang mengajar Film Marketing di Universitas Multimedia Nusantara ini. (mg3/udi) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :