Buah Kerja Keras, Sukses Raih Adiwiyata Mandiri 2017

 
SETELAH sempat gagal pada tahun 2016 lalu, SMP Negeri 15 Malang akhirnya meraih gelar Adiwiyata Mandiri 2017. Sekolah yang berada di Jl. Bukit Dieng Pisang Candi ini sukses mencapai gelar tertinggi Adiwiyata. SMPN 15 menjadi salah satu sekolah yang membanggakan Jawa Timur dan Kota Malang, dari sebanyak 113 sekolah seluruh Indonesia.
Penghargaan diberikan Presiden RI melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc kepada Kepala SMPN 15 Malang Agus Wahyudi, S.Pd. M.Pd. Tepatnya saat acara peringatan Hari Lingkungan Hidup pada 2 Agustus 2017 lalu, di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jakarta. 
Agus Wahyudi mengatakan, keberhasilan SMPN 15 Malang meraih Adiwiyata Mandiri merupakan hasil perjuangan dan kerja keras dari seluruh jajarannya. Dukungan siswa, wali murid serta masyarakat juga sangat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi tersebut. 
“Prestasi ini tak lepas dari peran serta banyak pihak, terutama guru, siswa dan masyarakat,” ucapnya.
Ia menjelaskan, ada tiga prinsip untuk membumikan semangat cinta peduli lingkungan yaitu edukatif, partisipatif dan berkelanjutan. Edukatif adalah proses dimana memberikan wawasan mengenai kepedulian terhadap lingkungan. Upaya ini didukung dengan adanya partisipasi dari semua pihak yang terlibat, baik dari warga sekolah, wali murid, masyarakat, pemerintah maupun dunia usaha dan dunia industri. 
“Semua rangkaian tersebut harus dikawal dan diawasi  agar dapat membiasakan norma serta etika yang berbudaya lingkungan agar tercipta prinsip yang berkelanjutan,” terangnya. 
Kendati demikian, lanjut Agus, ada tahapan yang dirasa paling sulit dalam mewujudkan sistem pendidikan berbasis lingkungan. Terutama saat proses internalisasi budaya dan kepedulian lingkungan. 
“Tantangannya adalah ketika harus mengedukasi  dan menularkan terlebih dahulu budaya peduli lingkungan terhadap setiap elemen yang ada di sekolah ini,” ungkapnya.
Selain melakukan pembenahan di internal sekolah, SMPN 15 juga harus mampu menularkan pendidikan cinta lingkungan kepada sekolah lain atau disebut sekolah imbas. 
Terdapat 10 sekolah imbas dari SMPN 15 yang dibina dalam jangka waktu satu tahun. Antara lain, SDN Polehan 2, SDN Ketawanggede, SDN Polowijen 1, SD Kauman 2, SDN Bandulan 3, SDN Bakalan Krajan 1, SDN Bakalan Krajan 2, SDN Bareng 2, SD Unggulan Al Ya’lu, dan SMA Nasional Malang. 
Agus berharap dengan perolehan gelar Adiwiyata Mandiri, guru dan siswa SMPN 15 semakin memotivasi untuk lebih peduli terhadap lingkungan baik di sekolah maupun saat bersosialisasi dengan masyarakat. Sebab menurutnya, sebuah penghargaan membawa tanggungjawab yang lebih besar untuk berbuat yang lebih baik lagi. 
“Bukan sakadar penghargaan yang membanggakan, tetapi menjadi tanggung jawab bagi kami ke depan untuk mempertahankannya,” tukasnya.
Ketua Tim Adiwiyata SMPN 15 Dwi Rahmawati S.Pd menyampaikan, 
penilaian atau verifikasi lapangan dilakukan juri dari Jakarta Mei lalu. Penilaian tersebut melibatkan pihak sekolah secara langsung. Juri bertanya kepada siswa maupun guru tentang bagaimana proses pengembangan sekolah Adiwiyata Mandiri. 
“Maka selain guru, para siswa juga harus memahami tentang program Adiwiyata ini,” ujarnya. 
Waka Humas SMPN 15 Dra Puji  Sumartini menambahkan, verifikasi lapangan tidak hanya dilakukan terhadap SMPN 15 Malang saja, melainkan juga dilakukan terhadap sekolah binaan. 
“Para juri tentu ingin tau, sejauh mana kami melakukan pembinaan pada sekolah lain,” ucapnya. (mp1/mp2/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :