Mafi Fest 2018, Sineas Malang Pamer Karya


 
MALANG – Hari ketiga Mafi Fest 2018, salah satu sesi pemutaran film mengangkat produksi lokal, kemarin. Pada sesi Ngalam, setidaknya lima film diputar yakni Ojek Lusi, Manusia-manusia Biasa dalam Kandang, Sewu, Asa Angkasa, Wiwik Pergi ke Pasar. Menariknya pada sesi ini produk maupun film maker berasal dari Malang.
“Saya menuangkan kisah pribadi saya dalam film, erat kaitannya dengan kerinduan sosok ayah,” ujar Naufaldy Ariq Fauzan, sutradara film Asa Angkasa ini.
Mahasiswa Filkom yang tergabung dengan Kine Klub UMM ini lantas membeberkan film yang terpilih untuk diputar dalam Mafi Fest 2018 sesi Ngalam.
Film ini mengisahkan tentang seorang anak SD kelas tiga bernama Bima yang belum pernah bertemu dengan ayahnya sehingga dia merindukan sosok ayah. Polosnya dia menganggap ayahnya berada di angkasa. 
“Seperti keyakinan banyak orang, orang yang sudah meninggal itu berada di angkasa. Maka kami mengambil ide ini dan mengemasnya dalam film,” ungkapnya.
Dia juga membeberkan mengapa tema kerinduan terhadap ayah dipilih dalam film Asa Angkasa. Naufal, sapaan akrab Naufaldy Ariq Fauzan mengaku kisah ini juga terinspirasi dari kehidupan pribadinya yang jarang sekali bertemu ayah karena berada di luar kota. 
“Itu spesialnya film, kita bahkan dapat terinspirasi dari mana saja. Saya terinspirasi dari kisah saya sendiri yang dituang dalam audio visual, tentu bantuan dari penulis untuk menciptakan alurnya,” tutur mahasiswa yang bercita-cita menjadi sineas profesional ini.
Naufal menjelaskan pesan yang ingin disampaikan dari film di ending adalah bahwa siapapun yang memiliki cita-cita tinggi harus berani meraihnya. Layaknya Bima yang dalam film bahkan ingin pergi ke angkasa untuk bertemu ayahnya. 
“Jangan pernah menyerah, punya cita-cita tinggi harus dicoba,” singkatnya.
Mahasiswa semester enam yang sudah bekerja ini juga mengisahkan proses pembuatan film asa angkasa. Selama empat bulan melakukan produksi film, tahapan yang paling susah adalah merancang proses sinematografinya, bahkan dalam film ada shoot yang sempat terpotong.
“Tahapan produksi yang susah, sebab lokasi jauh di Pakis. Selain itu, seluruh kru juga tahap belajar, belum lagi terkendala waktu dalam pengerjaan. Masing-masing kan masih studi dan berorganisasi,” ungkap mahasiswa yang sudah menyukai film sejak SMA ini.
Sementara itu, Direktur Kine Klub UMM, Muhammad Fikri Hidayat menyampaikan perkembangan film yang diterima di Mafi Fest memiliki banyak issue yang beragam. Mafi Fest juga menjadi peluang seluruh komunitas film untuk berjejaring.
Bahkan, jaringan kine klub UMM telah memiliki 30 link hingga Denpasar. Meski begitu, regenerasi tetap dirasa penting untuk membuat komunitas berkembang. Sebab, berbeda dengan sineas yang profesional dan menghasilkan, UKM kine klub tetap harus mementingkan studi.
“Dalam pemutaran film ini, ada sesi diskusi dengan film maker. Disini seluruhnya mampu sharing terkait issue yang sedang marak bahkan kendala di berbagai daerah seperti Kalimantan, Kebumen, hingga Jakarta,” imbuh Fikri. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :