SMK Lebih Baik Merger


MALANG -  Kerawanan SMK  di Gondanglegi yang bakal 'gulung tikar' pada tahun ini, karena tidak bisa memenuhi prasyarat ternyata tidak sekadar ancaman. Merger dengan lembaga pendidikan lain menjadi salah satu antisipasi yang harus segera dilakukan.
Meski bukan wewenangnya, namun hal ini juga memantik keprihatinan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, M. Hidayat.  “Memang seharusnya merger dengan lembaga pendidikan lain,” tegasnya.
Menurut dia, aturan dari Kementerian Pendidikan, tahun 2018 ini merupakan tahun pembinaan bagi sekolah. Baik sekolah swasta atau negeri tingkat dasar menengah, diberikan waktu untuk meningkatkan atau mengembangkan lembaga pendidikannya.
Jika dalam perkembangannya tahun 2018 ini, tidak memiliki kemampuan, kredibilitas dan intregitas, atau ada kecenderungan stagnan, maka lembaga pendidikan tersebut akan diberikan dua opsi pilihan.
“Pertama adalah merger dengan lembaga pendidikan lain yang sejenis. Atau pilihan keduanya ditutup paksa,” tutur Dayat, sapaan akrabnya. “Saya hanya menggarisbawahi bila tahun ini memang tahun pembinaan untuk lembaga SMA dan SMK,” ucapnya.
Disinggung soal prasyarat lembaga pendidikan, ia mengungkapkan minimal untuk satu kelas lembaga pendidikan harus ada 36 hingga  38 siswa. Termasuk gurunya harus memenuhi semua mata pelajaran.
Seperti diberitakan sebelumnya, peralihan pengawasan lembaga SMK dan SMA ke Propinsi Jatim, akan banyak lembaga pendidikan di Kabupaten Malang yang terancam gulung tikar. Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto mengatakan banyak sekolah yang tidak memenuhi prasyarat.
Salah satunya adalah lembaga pendidikan yang ada di Kecamatan Gondanglegi. Ada sekitar 28 SMK dan SMA swasta, yang diketahui tidak memenuhi prasyarat. Selain bangunan gedungnya, juga jumlah siswa yang kurang serta tenaga pendidik yang tidak mumpuni. (agp/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...