Jangan Ada Retno Lain


MALANG – Aksi demonstrasi siswa SMAN 2 Malang yang melengserkan kepala sekolah Dr. Rr Dwi Retno Udjian Ningsih, M.Pd  menjadi trending topic dan headline. Pasca peristiwa itu, muncul banyak kisah baru tentang track record Retno di masa lalu.
Sikap Dwi Retno yang sering berkata kasar, rupanya sudah muncul sejak belasan tahun lalu. Seperti diungkapkan salah satu alumni SMAN 1 Malang angkatan 2003, Dwi Retno sejak dulu sudah sering menghina murid didiknya terutama dalam segi ekonomi.“Intinya kelakuan beliau sekarang dengan belasan tahun lalu hampir sama, suka menghina mengarah ke kata-kata miskin,” ujar laki-laki yang enggan namanya ditulis itu.
Bahkan, kala itu ada siswa kurang mampu yang belum membayar uang sekolah, Dwi Retno melontarkan makian dengan menyuruh orangtuanya kerja sebagai tukang bersih-bersih di sekolah. Perkataan tersebut sempat memancing siswa kelas XII untuk mendudukkan Dwi Retno di hadapan para siswa, wali murid, guru dan kepala sekolah di Aula Tugu.
“Bapakmu suruh bersih-bersih saja di sekolah kalau kamu tidak bisa bayar uang sekolah,” ujarnya menirukan perkataan Dwi Retno.
Pertemuan di Aula Tugu digelar untuk mengutarakan perilaku tidak terpuji Dwi Retno yang kala itu sebagai guru Bahasa Jepang. Meskipun tidak ada sanksi yang berarti, setidaknya melalui pertemuan tersebut, sedikit memberi rasa malu kepadanya. “Langkah yang kami ambil kala itu hanya sebatas menggelar forum, tidak berani aksi sebesar ini (aksi demo SMAN 2 Malang),” paparnya.
Pertama kali mendengar berita Dwi Retno didemo secara besar-besaran oleh siswanya sendiri, ia sudah tidak kaget lagi. Bahkan ekspresi kaget yang harusnya diungkapkan justru berubah menjadi tawa.
“Tidak kaget, karena perilakunya dari dulu sudah buruk. Tidak apa-apa, mungkin ini sudah jalannya Bu Retno, supaya menjadi pelajaran di masa mendatang agar lebih menghargai orang lain yang ekonominya ada di bawah,” pungkasnya.
Sementara itu, Staf Khusus Bidang Komunikasi Publik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nasrullah mengatakan, seharusnya ada komunikasi lebih baik sehingga demo besar tersebut tidak sampai terjadi.
 “Kasusnya memang terdengar sudah lama, harusnya ada komunikasi yang baik antara semua pihak baik sekolah, komite dan masyarakat. Ketiga pilar tersebut, apabila terjalin komunikasi yang baik maka demo seperti ini bisa dihindari,” ungkap Nasrul.
Mengoptimalkan komite sekolah menjadi solusi yang bisa dilakukan untuk menghindari kejadian serupa terjadi lagi. Mengingat, pihak komite merupakan penyalur yang menjembatani antara kepala sekolah dan masyarakat.
Menurutnya, kepala sekolah diibaratkan sebagai manajer wajib memiliki hubungan yang baik dengan semua pihak, khususnya siswa. Jangan sampai masalah apapun yang ada, menjadikan siswa sebagai korban yang paling dirugikan.
“Komite sekolah harus dioptimalkan di setiap sekolah, sehingga mengurangi kasus serupa terjadi lagi, jangan ada Retno-Retno yang lain,” tandas Nasrul.
Ia menghimbau agar ketiga pilar pendidikan harus bisa berjalan seimbang. Terutama kepala sekolah sebagai manajer seharusnya bisa membangun hubungan yang baik dengan komite sekolah dan masyarakat, sehingga bila ada masalah di lingkup sekolah bisa diselesaikan di sekolah itu juga. (mg7/han)

Berita Lainnya :