Rajin Meneliti dan Mengabdi, Dosen Unisma Makin Sejahtera


MALANG – Di berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, kini menggencarkan program guru besar. Tak ketinggalan salah satunya Unisma, dengan meningkatkan salary sebagai wujud menyejahterahkan dosen dalam melakukan penelitiannya. Selain itu, dosen juga mendapat sosialisasi buku pedoman penelitian sebagai penunjang pelaksanaannya.
“Bagi civitas, dari tahun ke tahun semakin menyenangkan kerja di Unisma. Sebab saling pengertian dalam peningkatan kesejahterahan dosen. Sebab, jika salary meningkat, kualitas dosen dan karyawan harus meningkat pula,” ujar Rektor Unisma Prof Dr Maskuri kepada Malang Post.
Menurutnya, selama tiga tahun ini 71,5% kesejahterahan dosen Unisma meningkat.
“Itu kan sudah luar biasa,” tegasnya.
Dia menegaskan, dosen banyak difasilitasi dalam pelaksanaan penelitian. Unisma juga memfasilitasi setiap dosen yang akan mengusulkan guru besar. Jika karya ilmiah kurang, tentu universitas akan membiayai dalam proses penyusunan artikelnya. Terkait dengan pelaksanaan tri dharma, dosen Unisma belum mengeluh dalam hal beban mengajar sekaligus meneliti.
“Wah, seluruh dosen merasa enjoy sekali, sehingga tidak ada keluhan dengan mengajar sambil meneliti. Sebab, kami tidak ada yang stagnan, semua harus bergerak menuju perubahan,” tandasnya.
Sementara itu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) juga menyosialisasikan buku pedoman penelitian dan pengabdian masyarakat edisi XII bekerja sama dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti RI di gedung Ustman bin Affan, Unisma. Panduan tersebut memuat beberapa konten kebijakan seperti skema penelitian yang disesuaikan dengan Cluster Perguruan Tingginya. Panduan edisi ke XII ini diterbitkan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian serta pengabdian masyarakat yang dilakukan terus-menerus, guna mencapai hasil penelitian yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional. “Kami berharap dengan adanya sosialisasi ini akan muncul pencerahan kepada dosen terkait regulasi dan syarat yang baru, mengingat Unisma berada di dalam cluster utama dengan dana hibah yang mencapai Rp 15 miliar,” ungkap Sekertaris LP2M Unisma Dr Ir Eko Noehayati MT.
Selain itu, narasumber buku pedoman penelitian dan pengabdian masyarakat edisi XII, Dr Drajat Tri MSi menggambarkan perbedaan dosen zaman dulu dengan sekarang. Sebab, dosen dulu hanya sebagai agen pendidikan dari ilmu buku yang ada. Sementara, saat ini dosen dituntut mampu menjadi sumber ilmu itu sendiri.
“Kalau digambarkan dosen di kelas bukan hanya sebagai agen pendidikan dari pakar yang sudah ada. Tetapi sekaligus langsung menjadi pakar ilmu baru yang ada di kelas. Sehingga mahasiswa dapat mendiskusikan yang ada dalam pikirannya,” tuturnya.
Drajat menambahkan, banyak hal baru terkait penyusunan proposal sesuai panduan edisi ke XII yang menekankan tiga hal yakni kompetitif nasional, desentralisasi dan penugasan dengan 11 skim, meliputi penelitian dasar, terapan, pengembangan, pemula, kerja sama dan pascasarjana.
“Sasarannya adalah kebaharuan atau membuat teori baru, jadi jangan ragu selama ide dan permasalahan itu sesuai data dan jurnal,” imbuhnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...