2020, Kekurangan Guru Capai Puncak


MALANG – Dua tahun ke depan, banyak sekali guru yang memasuki masa pensiun. Puncaknya diperkirakan pada 2020, banyak kasus kekurangan guru yang akan terjadi. Pusat analisis kebijakan pendidikan mengamati kasus kekurangan guru lebih kepada permasalahan penempatan guru yang tidak merata alias mutasi yang tidak efektif.
“Banyak perguruan tinggi ramai-ramai membuka jurusan guru dan meluluskan guru. Tapi selama ini kasus yang terjadi adalah masih sering mengalami kekurangan guru,” ujar Pusat Analisis Kebijakan Pendidikan Kemendikbud, Ir Hendarman MSi PhD kepada Malang Post ditemui di UIN Maliki.
Padahal, menurutnya, bukan jumlah guru yang kurang. Namun, penempatan guru yang belum merata. Ada sekolah yang gurunya sampai kekurangan jam mengajar karena kelebihan guru, begitupun sebaliknya.
Solusi yang ditawarkan dalam menghadapi tidak meratanya jumlah guru adalah melakukan mutasi. Namun hal ini menuai pro kontra pelaksanaannya di kalangan guru. Sebab, sebagian menilai rotasi guru hingga kini belum maksimal diterapkan.
Salah satunya, Kepala SDN Blimbing 1, Drs Tjipto, mengaku faktor utama adalah lamanya proses pengangkatan guru yang disebabkan banyak guru pensiun. Dia menbeberkan proses rotasi guru sebenarnya sangat diperlukan untuk menambah pengalaman guru. Namun, dalam praktiknya tidak terlaksana maksimal.
“Proses rotasi guru itu memberi wawasan yang cukup banyak. Kalau guru hanya memiliki pengalaman mengajar pada satu sekolah saja dan merasa sudah berhasil dengan sekolah itu, dampaknya tidak berkembang,” ungkapnya.
Tjipto menambahkan, rotasi guru sepenuhnya wewenang Dinas Pendidikan kota Malang dengan melihat formasi data di sekolah terkait dengan jumlah guru kelasnya. Jika pelaksanaan rotasi guru sering dilakukan tentu akan membentuk jati diri guru yang sebenarnya sehingga menjadi guru yang layak dan professional.
“Rotasi guru akan banyak memberi motivasi baik kelebihan maupun kekurangan dari potensi guru tersebut. Sebab, belum tentu guru bisa berhasil di sekolah lain,” tandasnya.
Sementara itu, penilaian berbeda dari Kepala SMKN 11 Malang, Drs Gunawan Dwiyono SST MPd terkait rotasi guru. Menurutnya, rotasi gurupun belum tentu menunjukkan potensi maksimal pengajar sebab diperlukan penyesuaian yang lama.
“Sebab saya sendiri punya pengalaman punya guru dari sekolah SMA yang kalang kabut saat mengajar di SMK. Dia menerapkan sistem pengajaran yang sama antara SMA dan SMK. Padahal kan pengajar harus melihat inputnya dulu, akhirnya kuwalahan,” bebernya.
Penilaian keberhasilan guru mengajar tidak selalu dilihat dari kemampuan guru. Gunawan menegaskan memang pengalaman guru bertambah saat mengajar dimanapun, tapi pasti harus melalui penyesuaian yang lama.
“Tolak ukur guru di sekolah yang bagus belum tentu sesuai potensinya. Belum tentu guru di sekolah bagus, potensinya bagus,” tutupnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...