Teliti Kacang Hitam untuk Diabetes

TERTARIK meningkatkan nilai jual kacang hitam khas dari Pulau Lombok, membuat Dr T Wahyu Mushollaeni SPi MP mengolah lebih lanjut kacang lebui dalam bentuk serbuk. Kacang yang selama ini sulit diolah padahal memiliki khasiat tinggi, kini menjadi lebih mudah dikonsumsi masyarakat daerah setempat berkat penelitian Dosen yang baru meraih gelar doktor ini.
“Pengolahan kacang ini sangat rumit dan panjang, terlebih harus melalui perendaman satu malam. Selanjutnya warga setempat mengolah kacang tersebut ke dalam berbagai masakan. Tekstur kacang ini keras sekali, tapi karena khasiatnya yang tinggi membuatnya masih banyak dicari masyarakat,” ujar Dekan Teknologi Ilmu Pertanian Unitri, Dr T Wahyu Mushollaeni SPi MP kepada Malang Post .

Dia melanjutkan, kacang hitam ini bersifat endemik dan memiliki ukuran 0,5 – 0,8 cm. Kacang unik ini, selama ini baru dipercayai mampu mengobati degeneratif dan risiko diabetes. Saat kacang lebui diteliti untuk diekstraksi dan ditemukan 44 jenis senyawa bioaktif yang mengandung serat pangan tinggi (dietary fiber), flavonoid sekaligus fenolik dengan aktivitas antioksidan tinggi. “Jika memiliki antioksidan, tentu manfaatnya dapat mencegah regenerasi, sehingga tak perlu mengonsumsi vitamin e. Setelah diteliti, masyarakat akan lebih tahu dan tak ragu mengonsumsinya,” tutur dosen yang ayahnya asli NTB itu.
Nilai ekonomis dalam pengolahan pertanian meliputi dijual dan diolah (rekayasa proses). Kacang lebui yang selama ini masih rendah pemanfaatannya di tengah masyarakat kemudian diolah melalui rakayasa proses. Mulai dari pembentukan bubuk, diekstraksi, sampai diaplikasikan dan diformulasikan menjadi minuman instan. “Pada tahap minuman instan inilah yang dinamakan meningkatkan nilai ekonomis. Warga setempat dapat mengonsumsi kacang lebui yang banyak khasiatnya itu dengan cara yang mudah. Sayangnya kacang hitam itu tidak dapat ditanam di tanah wilayah Jawa Timur,” pungkas wanita kelahiran 1978 ini.
Sementara itu, menurut Wahyu, sapaan akrab Wahyu Mushollaeni ini, tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi pada produk pertanian, teknologi ilmu pertanian sangat kompleks dengan proses pengolahan yang mampu mengatur sumber daya manusia untuk nantinya menuju pemasaran. “Teknologi ilmu pertanian memiliki tiga pilar yakni manajemen, rekayasa sistem, hingga teknologinya,” ulas wanita yang juga berjiwa entrepreneur itu.
Sebagai negara agraris, SDM Indonesia harus mampu mengembangkan sektor pertanian sebagai poros utama dengan sistem pertanian berkelanjutan dengan bio industri. “Kita dapat mulai mencontoh Thailand, konsep pertanian berkelanjutan,” tutupnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :