Peminat Ilmu Keolahragaan Rendah


MALANG - Dianggap kurang mapan, Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) minim peminat. Animo pendaftar di jurusan ini tergolong rendah. Anggapan bahwa lulusan FIK tidak bisa berprofesi sebagai guru menjadi salah satu penyebabnya.
“Persepsi orang dari segi output kurang. Padahal, lulusan Ilmu Keolahragaan juga berpeluang menjadi guru dengan mengikuti pendidikan profesi guru,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UM, Prof Dr ME Winarno MPd saat ditemui Malang Post, kemarin.
Dia melanjutkan, lulusan Ilmu Keolahragaan akan berkesempatan menjalani pelatihan guru. Bahkan, dari segi tes lulusannya mampu bersaing dengan lulusan prodi lain. Hal ini ditengarai materi yang didapatkan lulusan ilmu keolahragaan lebih banyak daripada praktik. “Syaratnya jadi guru harus punya sertifikat Pendidikan Profesi Guru. Ikor punya peluang tinggi lolos tes, sebab lebih banyak teori perkuliahan yang diperoleh daripada praktik. Sehingga, ketika bersaing dengan prodi lain pasti bisa menang,” tandasnya.
Satu angkatan mahasiswa FIK berjumlah 68 orang dengan prosentase kelulusan 60 %. Hal ini tergolong rendah. Dari evaluasinya, mahasiswa terkendala pada penulisan tugas akhir atau skripsi.
“Dorongan internal sendiri sebenarnya untuk lulus tepat waktu. Sehingga untuk mempercepatnya kami menunjang dengan adanya bimbingan kelompok yang dinilai lebih efektif,” bebernya,
Dalam hal prestasi, mahasiswa olahraga dan seni sebenarnya juga berkualitas tinggi. Hanya saja, bidang yang mereka tekuni di bidang fisik. Sehingga untuk prestasi dalam hal penulisan memang tidak seberapa.
“Performance mereka memang lebih ke fisik, berbeda dengan akademisi lain. Dalam hal menyusun instrument memang kurang. Sehingga dibutuhkan upaya untuk mengubah habit mereka,” paparnya.
Begitu banyaknya prestasi atlet FIK bahkan di tingkat internasional, nyatanya tidak dapat digunakan untuk mengonversikan prestasi mereka untuk bebas tugas akhir. Sebab, tugas akhir berbeda dengan prestasi di luar kampus yang sifatnya non akademik.
“Tidak dapat dikonversikan, mereka hanya dipandu untuk membuat program. Misal mereka menang dalam kompetisi balap sepeda. Maka mereka harus membuat program yang erat kaitannya dengan balap sepeda, itu saja. Mereka tidak dapat bebas skripsi,” tandasnya.
Dalam mendorong peningkatan kualitas, tahun ini FIK UM menyiapkan akreditasi A pada 14 Agustus mendatang. Winarno memaparkan, standar yang diperlukan untuk mencapai akreditasi A tersebut, mulai dari visi misi, tata kelola lembaga, lulusan, ketepatan studi, IPK, SDM pembelajaran dengan buku ajarnya, anggaran penelitian sekaligus bentuk kerja samanya. Selain itu, di FIK ada 10 judul penelitian yang didanai Rp 45 juta -Rp 80 Juta dan 10 Judul pengabdian masyarakat yang juga didanai Rp 12 juta-Rp 15 Juta.
 “Dari segi dosen S3 sudah mencapai 50%. Ditunjang dengan publikasi jurnal bersama 14 FIK se Indonesia, sekaligus untuk meningkatkan forum Dekan Ilmu Keolahragaan se Indonesia, termasuk forum prodi untuk mendorong standar jurnal nasional,” ungkap pria yang sudah mempublikasikan 13 karya buku bersama timnya ini. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...