Soal Ujian Bikin Siswa Patah Hati


MALANG – Beredar kabar Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) mata pelajaran Matematika bakal diulang. Faktanya, banyak keluhan dari siswa terkait pelaksanaan UNBK pada Selasa (10/4). Di beberapa sekolah terdapat soal yang tidak bisa diklik menggunakan mouse melainkan harus pakai keyboard. Bahkan soal yang diujikan bikin siswa patah hari, terlalu sulit dan melenceng jauh dari kisi-kisi Ujian Nasional (UN) yang diberikan.
Kabar ini muncul kali pertama dari twitter @Kemdikbud_RI. Dishare foto dengan judul berita “Kemendikbud Berencana Melaksanakan Kembali UNBK Matematika Jenjang SMA Pada Tanggal 17 April Mendatang”. Twitter resmi @Kemdikbud_RI, ecara tegas membantah bahwa kabar tersebut adalah hoax.
Namun kabar ini terlanjur tersebar, termasuk di Malang. Kepala SMAN 6 Malang, Drs. Hariyanto.M.Pd, mengungkapkan, kabar akan diulangnya UNBK Matematika ini belum diterima secara resmi. Hanya saja faktanya, Ia banyak mendapat keluhan dari siswa mengenai sulitnya soal matematika tersebut.
“Bahkan group fasilitator direktorat pembinaan SMA, sebagian besar guru-guru mendapatkan keluhan serupa dari siswa-siswinya,” ungkap Hariyanto.
Ia menjelaskan proses tahapan pembuatan soal UN mulai dari kisi-kisi, pembuatan soal oleh tim, analisis kualitatif, uji coba hingga perakitan dan pelaksanaannya sudah sesuai dengan prosedur yang benar.
“Sehingga apabila kemudian muncul kabar tersebut lankah selanjutnya yakni tidak hanya mengukur berdasrkan opini peserta, tetapi harus harus dari analisis kuantitatif hasil UN,” jelasnya.
Setelah analisis tersebut baru kemudian direkomendasikan apakah UNBK Matematika perlu diulang atau tidak. Apabila hanya berdasarkan opini dan tidak ada kejadian luar biasa seperti kebocoran massal lantas diputuskan untuk diulang, maka langkah tersebut merupakan keputusan yang prematur.
Apabila memang akan diadakan pengulangan UNBK Matematika, maka harus ada jadwal UN susulan. Namun hal ini tentunya akan memberikan dampak bagi sekolah, peserta didik, dan masyarakat. Bagi sekolah akan membebani secara volume kerja dan finansial karena harus memulai proses tahapan UNBK dari awal.
“Sedangkan bagi siswa mengakibatkan lelah baik fisik maupun psikis serta bagi masyarakat timbul krisis kepercayaan terhadap keberlangsungan (proses) dan kebermaknaan (fungsi) UN,” papar Hariyanto.

Berita Lainnya :