Peluang Usaha Massage Bagi Mahasiswa FIK


 
MALANG – Minimnya pengetahuan kewirausahaan bagi output lulusan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), membuat mereka tak melihat peluang sport massage dan therapy message sebagai usaha dengan penghasilan yang menjanjikan. Salah satu entrepreneur bidang olahraga yang sukses, Dr Ali Satria Graha MKes AIPO membuktikan terapi pijat bukanlah usaha yang remeh semata.
“Saya sudah membuka empat tempat message, satu diantaranya di lab kampus. Jangan kaget, usaha ini sudah saya kembangkan dengan pasien berasal dari luar negeri. Penghasilannya, tidak tanggung-tanggung sebesar Rp 10-20 juta setengah jam, sudah sama seperti gaji pegawai 4C kan?” ujar Dosen Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta, Dr Ali Satria Graha MKes AIPO dalam seminar Kewirausahaan Olahraga, Peluang, dan Tantangan di UM, kemarin.
Dia melanjutkan, tentu sebagai akademisi harus memiliki ilmu secara ilmiah. Awalnya, Ali mendapatkan ilmu terapi pijat dengan benar berdasarkan pengalamannya melihat cara memijat therapis di tempat spa.
“Selama perkuliahan bukankah mahasiswa sudah mendapatkan ilmu sport massage, kalau saya juga mempelajari bagaimana terapis memijat, yang terpenting adalah anatomi pasiennya,” ungkapnya.
Selama ini, mungkin mahasiswa FIK tak terpikirkan untuk meningkatkan ilmu sport massagenya sebagai peluang membuka usaha sendiri. Kebanyakan mahasiswa terkesan gengsi untuk memulai, bahkan menganggap remeh profesi tukang pijat.
“Mending tukang pijat daripada pegawai bank. Menangani pasien tiga puluh menit saja sudah berpenghasilan Rp 20 Juta,” paparnya.
Publikasi dari Badan Pusat Statistik 2015, kepada 1236 usaha SPA di seluruh Indonesia terdata 17,88% tertinggi di DKI dengan 220 usaha SPA, 17,15% Jawa Timur, 10,33% Jawa Barat, 7,04%  Bali, 6,72% Yogyakarta dengan peningkatan usaha komersial SPA sebesar 64,97% setelah tahun 2009.
Dari usaha spa di Indonesia 57,28% beromset Rp 500 juta per tahun dan 20,55% beromset dibawah Rp 1 Miliar. Data mencengangkan bahwa 89,97% layanan usaha SPA yakni terapi pijat.
“Artinya masyarakat butuh pijat sehingga menjadi peluang usaha bagi sebagian masyarakat. Kiat-kiat membuka usaha jasa SPA, mulai dari lmu pengetahuan, keahlian legalitas, kepercayaan diri, antusias masyarakat, biaya jasa, manajemen, kebutuhan tempat, serta pendaftaran tempat dan SDM,” tuturnya.
Tantangan peluang usaha ini adalah minimnya regulasi dari Kemenkes, Permenpar, dan Kemenpora. Bahkan, seharusnya generasi kini mampu meluruskan peraturan pemerintah tentang pengamanan dan pengobatan tradisional, bahkan stigma saat ini message khas Indonesia dianggap dari Swedia. 
Agar dapat terwujud menjadi program presiden sebagai usaha mandiri, maka dari civitas akademika mulai mengadakan forum jurusan untuk saling sharing atas kekurangan dan tantangan yang ada agar diajukan dekan dalam forum rektor hingga kemenristekdikti, kemenpora, kemenpar, dan kemenkes.
‘’Lulusan FIK UM, salah satunya harus mampu menjadikan ini sebagai peluang usaha, sehingga diharapkan lulusan S1 yang ahli ini mampu mewadahi keterampilan lulusan SMA,” imbuhnya. (mg3/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :