Ubah Kulit Pisang Menjadi Bioplastik


 
MALANG – Prihatin dengan sampah yang sulit terdegradasi, membuat lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB Malang menyulap limbah kulit pisang menjadi bioplastik. Bioplastik yang terbuat dari kulit pisang ini, setidaknya dapat lebih cepat terurai saat dibuang ke tanah.
“Plastik kan sebagai limbah yang terdegradasi dalam waktu lama hingga bertahun-tahun. Sehingga kami mencoba mencari bahan utama yang mengandung pati yang dapat diolah menjadi bioplastik nantinya,” kata Anis Shafira Rinaldi, mahasiswi Teknologi Industri Pertanian UB, yang ditemui Malang Post.
Siswi semester enam ini mengaku bersama empat rekan lainnya mencoba mengambil limbah kulit pisang yang banyak dihasilkan di UKM daerah Malang Selatan. Kulit pisang dipilih sebab mengandung pati.
“Selama penelitian, kami memantau pembuangan limbah kulit pisang sekali produksi sebanyak 10 karung dan ditumpuk saja, sehingga ingin kami manfaatkan,” ungkapnya.
Tahapan pembuatan yang dilakukan selama satu minggu ini, dimulai dari pemotongan limbah kulit pisang dalam ukuran kecil yang kemudian direndam dengan asam sitrat. Hal ini dilakukan untuk menghindari browning pada kulit pisang.
Selanjutnya, kulit pisang dihancurkan dan ditambah air ke dalam blender. Usai tahapan bubuk pati dengan penambahan komponen seperti nitosan, gliserol, akuades, dan asam asetat, bubur akan dipres dengan pompa hidrolik untuk pemisahan air dengan ampas. 
“Bubuk tepung pati pada tahap formulasi dengan penambahan nitosan yang berguna untuk memperkuat, gliserol untuk mengelastiskan, dan asam asetat untuk mengentalkan,” papar Sellyan Lorenza.
Penelitian ini lebih unggul dengan penambahan bakteri mikroba yakni sedomonas dengan biotin sebagai pemerkuat metabolism bakteri tersebut. Tahap film bioplastik telah memenuhi standart American Standart Material (ASTM) mulai dari daya tusuk, daya renggang, dan daya kuat.
Selama percobaan, bioplastik sempat mengalami lima kali kegagalan sehingga menemukan formulasi yang tepat. Bioplastik yang dibimbing oleh Suprayogi STP MP PhD disusun oleh Anis Shafira Rinaldi, Sellyan Lorenza, Neno Retnowati, Rizky Candra, dan Himawan Audalana dibiayai Dikti sebesar Rp 9 juta.
“Kelebihan dari bioplastik kami lebih putih. Selama ini kan ada juga bioplastik berwarna hitam karena terjadinya browning. Selain itu, bahan biotin dan sedomonas akan terurai selama 21 hari saat dibuang di tanah,” tuturnya. (mg3/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :