Duta Polinema Leader Mahasiswa


MALANG - Duta Polinema menjadi garda terdepan kegiatan mahasiswa dan kerjasama perguruan tinggi. Mahasiswa yang terpilih dalam grand final Duta Polinema, Jumat (13/4) malam itu bakal langsung menjalankan tugas mereka.
Enam pasang peserta terpilih dalam ajang pemilihan tersebut. Yakni Duta Polinema diraih oleh Moh Fauzi dan Ade Rara. Sedangkan Wakil 1 yakni Achmad Khusnul Abid dan Aurellia Ardia, Wakil 2 Dadang Kurniawan dan Adinin Diba.
Kategori Duta Polinema Terfavorit diraih M Alif Sofyansyah dan Agatha Lely. Sedangkan  Duta Polinema Berbakat yakni M Hafidz Ilham dan Farra Hira Mitha. Tanggon Kalbu dan Prisfi Maria terpilih sebagai Duta Polinema Intelegensi.  
Sebelumnya para finalis unjuk kemampuan di depan dewan juri di malam grand final  yang berlangsung di Graha Polinema. Performa para finalis juga dinilai dengan voting langsung dari penonton yang hadir.
“Sebelumnya terdapat 98 mahasiswa yang mendaftar kemudian disaring 10 pria dan 10 wanita. Hingga tahap ini dipilih Duta Polinema, wakil satu dan dua, duta intelegensi, duta berbakat dan duta favorit,” jelas  Ketua Panitia Duta Polinema, Dr Nurafni Eltivia SE MSA AK CFP CA saat ditemui Malang Post.
Ketua Panitia yang juga dosen akuntansi ini mengaku para finalis telah melewati dua tahapan ketat. Mulai dari seleksi pengetahuan umum, Bahasa Inggris, dan interview. Kemudian dilanjutkan pada tahap kedua mulai dari seleksi bakat, presentasi projek sosial edukasi hingga interview mendalam.
“Mereka mengikuti karantina untuk pembekalan selama dua hari. Pembelajaran yang diajarkan di masa karantina yakni seputar kesehatan, public speaking, materi etika, self development. Selain itu attitude di sosial media. Ini karena Duta Polinema harus siap menjaga diri di dunia maya terlebih maraknya hoax saat ini,” ungkapnya.
Tahun keempat pemilihan Duta Polinema ini menarik karena para finalis dituntut membuat proyek sosial edukasi. Beragam ide proyek kegiatan dikemas semenarik mungkin untuk menambah poin plus mereka. Hal ini mengingat, para finalis harus menjadi sosok yang sesuai jargon Duta Polinema yakni cerdas, kreatif, mandiri dan berkarakter.
“Proyek sosial edukasi mereka merupakan kombinasi dari kegiatan sosial dan edukasi, kebanyakan adalah kegiatan pembelajaran di masyarakat. Mereka nantinya sebagai garda depan untuk promosi kegiatan kampus dengan proyek sosial edukasi tersebut. Sehingga mampu menjadi leader mahasiswa di Polinema,” tuturnya.
Dalam performanya di malam grand final, para finalis disuguhkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar teknologi informasi, arti kesuksesan, arti integritas, arti kegagalan, pencapaian hingga peran mereka dalam mengatasi penyalahgunaan narkoba dan hoax. Mereka harus menjawab pertanyaan yang didapat hanya dalam waktu 30 detik.
Salah satunya, Muhammad Fauzi yang memperoleh pertanyaan berupa cara penanganan teknologi yang berkembang dalam kehidupan sosial secara positif. “Sebagai mahasiswa yang dididik baik secara akademik di perguruan tinggi, maka sudah pasti memiliki ilmu yang mampu disebarkan tentu tanpa terjerumus hoax,” bebernya.
Tak kalah dengan M Fauzi, Ade Rara juga harus menjawab pertanyaan terkait ungkapan pepatah yakni alam adalah penentu selanjutnya. Dia menjawab dengan singkat dan tepat 30 detik. “Saya setuju dengan ungkapan pepatah tersebut, sebab kita akan diajarkan untuk mempersiapkan diri dalam perencanaan kedepan,” jawab wanita cantik ini.
Acara semakin seru dengan sorak sorai pendukung dari para finalis yang tampil. Sebab, selain pendukung mampu melakukan voting langsung, mereka juga bersaing untuk dipilih dalam kategori pendukung terheboh.
Pemilihan Duta Polinema makin menarik karena juga dikemas dengan lomba desain seragam yang diikuti oleh umum. Sebanyak 22 desain seragam yang diterima panitia dari peserta tenaga pendidik maupun peserta didik jenjang SMK hingga perguruan tinggi. (mg3/van)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...