Waspada Trauma Pasca Khitan

 
MALANG - Sirkumsisi atau yang biasa dikenal dengan istilah khitan merupakan salah satu kompetensi yang harus bisa dilakukan oleh dokter dan perawat, termasuk melakukan diagnosis serta penatalaksanaan untuk bedah minor tersebut. 
Lembaga Semi Otonom (LSO) Tim Bantuan Medis Mahasiswa (TBMM) Nurul Qolbi Fakultas Kedokteran UMM menggelar seminar dan workshop (semwork) Sirkumsisi 2018 bertajuk The ACT of Circumcision, Active comprehensive integrative. Berlokasi di Aula GKB 4, Minggu(15/4). 
Peserta seminar tidak hanya terdiri dari kalangan mahasiswa, namun juga tenaga medis yakni dokter, perawat dan masyarakat umum yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur. Hadir sebagai pemateri dalam acara ini yakni dr. Thontowi Djauhari NS,Mkes, dr. Moch. Aleq Sander, M.Kes, Sp.B, FINACS, dan Ns. Faqih Ruhyanudin, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB, dengan moderator dr. Aulia Syafitri Damayanti. 
dr. Thontowi Djauhari NS,Mkes, selaku Pembina TBMM Nurul Qolbi FK UMM yang juga hadir sebagai pemateri menuturkan bahwa apapun teknik yang dipilih dalam melakukan sirkumsisi pada prinsipnya yang harus diperhatikan adalah terkait hal kebersihan.Sebab jika tidak, maka akan muncul kasus-kasus yang dapat membahayakan pasien kedepannya. dr. Thontowi menjelaskan, selain teknik konvensional beberapa teknik yang bisa digunakan dalam praktek sirkumsisi adalah teknik laser atau flash cutter, klamp, dan bipolar tech.
“Apapun teknik sirkumsisi yang dipakai tidak ada jaminan bahwa pasien tidak akan mengalami rasa sakit, karena pada dasarnya semua luka butuh proses pemulihan,” tegasnya seperti dirilis Humas UMM. 
Selain itu, dr Thontowi juga berpesan bahwa sebagai tenaga medis salah satu faktor pendukung yang juga harus diperhatikan dalam melakukan sirkumsisi adalah faktor psikologi dan psikososial.
Edukasi pada keluarga pasien sangat penting untuk membantu proses pemulihan dan supaya pasien tidak mengalami trauma pasca dilakukannya sirkumsisi tersebut," pungkasnya. (oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...