Debat di Qatar, Siswa Malang Kalahkan Pakistan


 
MALANG – Muda dan berbakat, keempat santri Tazkia International Islamic Boarding School (IIBS) Malang memenangkan Internasional School Arabic Debating Championship mewakili Indonesia di Doha, Qatar (11/04).
Perjuangan keempat siswa yang masih kelas X yakni Aftina Zakiya Wafda, Shofiah Ahmad Dzaky, Nuriya Lailatus Sakinah, dan Aqidatul Izza ini, membuahkan hasil setelah melalui tahap final melawan Tim Pakistan. Tak hanya terpilih sebagai juara, tim debat Taskia IIBS juga memborong juara 1, 2, dan 3 untuk kategori pembicara terbaik debat yang berlangsung sejak 5 April lalu.
“Awalnya kami tahu, ada siswa yang mendaftar dari Indonesia yakni Al Qolam dan Gontor. Tapi Alhamdulillah sekolah kami terpilih untuk mewakili Indonesia,” ujar Aqidatul Izza, siswa kelas X IPA 1 kepada Malang Post, kemarin.
“Sebenarnya, ciut dan kurang percaya diri, soalnya saat pertama kali pembukaan di auditorium Qatar terlihat banyak pesaing yang lebih fasih bahasa Arab dan fisiknya juga bagus-bagus. Tapi karena termotivasi untuk tampil terbaik dengan guru pendamping, maka kami berusaha maksimal,” lanjutnya. 
Siswa asli Balikpapan ini menceritakan pengalaman kali pertamanya mengikuti debat internasional tersebut. Dia bersama tiga rekan lainnya harus melawan 53 negara dengan mengikuti lima tahap seleksi dan satu kali tahap uji coba. Melewati beberapa kali seleksi, kompetisi pertama belum berhasil melawan Thailand. 
“Tak patah semangat, akhirnya kami berhasil menang melawan Brazil pada tahap kedua, disusul kemenangan berikutnya melawan Kolombia,” ungkap Sasa sapaan akrab Aqidatul Izza ini.
Seminggu sebelum pelaksanaan debat, seluruh finalis memperoleh 15 issue yang harus dipersiapkan untuk diskusi baik pernyataan pro maupun kontra. Issue tersebut mulai dari kesehatan, pendidikan, politik, intervensi negara besar, hingga pembahasan Al Quds. Pada seleksi pertama, issue yang dibahas mengenai obesitas, pelatihan fisik musim panas untuk menurunkan obesitas. 
“Sebelum ikut kompetisi ini, pembahasan issue yang sedang banyak dibahas diajarkan pada bimbingan intensif di Tazkia. Meskipun dibekali dengan kamus, menurut kami tahapan yang cukup sulit adalah untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kalau issuenya yang cukup berat yakni Al Quds,” tutur Shofiah Achmad Zacky, siswa asli Malang tersebut.
Setiap sesi seleksi mendapat masukan dari juri untuk setiap penampilan finalis, baik dalam hal kekurangan maupun kelebihan. Sehingga para finalis mampu mengintrospeksi diri untuk maju pada tahapan berikutnya. Menurut juri saat menganalisis tim debat Taskia ini, keempatnya memiliki kekurangan dalam hal perlawanan argumentasi terhadap lawan.
“Tim kami kurang argumentative saat menghadapi lawan, sebab menurut juri, jika tim kami diam saja maka seolah membenarkan argumen lawan. Sedangkan penilaian positifnya adalah karena materi yang kami sajikan lebih unggul dilengkapi pemahaman judul dan kontruksi berpikir,” timpal Aftina Zakiya Wafda.
Pelaksanaan debat yang berlangsung selama satu minggu ini terbagi menjadi dua kategori yakni native dan non native. Debat kategori native adalah lomba yang diikuti oleh tim dari negara yang berbahasa Arab dalam kesehariannya. Sedangkan non native adalah kategori peserta dari negara yang tidak berbahasa Arab dalam kesehariannya. Maka kedepan tim Tazkia ini tertantang mengikuti kompetisi debat untuk kategori native. 
“Kami tertantang untuk mengikuti kompetisi berikutnya khususnya dengan negara native, sebab di sana kami dapat menghadapi lawan yang memang bahasa kesehariannya adalah bahasa Arab. Bagus jika kami juga dapat juara untuk kategori tersebut,” pungkas Nuriya Lailatus Sakinah lagi.
Sementara itu, Kepala Tazkia IIBS Malang, Rois Haqiqi MPd juga mengapresiasi dengan bangga prestasi siswanya ini. Maka, usai kompetisi di Qatar, keempat siswa berprestasi langsung disambut oleh pihak sekolah.
Nantinya, Tazkia IIBS Malang akan memberikan apresiasi secara khusus kepada empat santriwati serta guru pendampingnya, Agung Muttaqin SPd. Sebab, karena perjuangan tim mampu membanggakan almamater dikancah Internasional, terlebih menjadi prestasi luar biasa, sebab finalis masih kelas X.
“Besar harapan kami pemerintah juga memberikan dukungan pada anak-anak yang berprestasi seperti ini,” imbuhnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...