Mendikbud: Kritikan Siswa Nakal Tapi Cerdas

 
MALANG - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy suka membaca kritikan yang dilontarkan siswa di akun medsos Kemendikbud. Menurutnya, apa yang dilakukan para siswa merepresentasikan generasi milenial yang menjanjikan. Dalam hal communication skill, mereka bukan hanya menguasai alat tetapi juga tahu etika penggunaannya.
“Mereka ekspresikan kritik dan ketidak puasanya dengan cara-cara yang memang “nakal” tetapi cerdas, dan menggemaskan,” terang Muhadjir.
Ia menjelaskan, mulai tahun ini sudah disertakan soal-soal Higher Order Thinking Skills (HOTS), tetapi prosentasenya tidak sampai 20 persen. Ini sebagai upaya meningkatkan kemampuan matematika siswa Indonesia agar setara dengan negara maju yang lain. Hal ini dilatarbelakangi pula oleh hasil tes PISA tahun 2015 yang menerangkan bahwa kemampuan Matematika siswa Indonesia rendah.
“Ini bukan karena siswa-siswa di Indonesia tidak pintar, tetapi standar yg ditetapkan utk pengajaran matematiknya rendah. Untuk itu secara bertahap akan digunakan standar HOTS,” jelas Muhadjir.
Namun soal-soal yang diujikan masih banyak yang mudah. Apabila siswa terkesan degan yang sulit itu secara psikologis sudah biasa, karena kesan dari pengalaman “komedis” atau yang menyenangkan memang mudah dilupakan dibanding kesan dari pengalaman “tragedis”.
“Seperti halnya yang dialami sepasang kekasih. Seratus pengalaman yg menyenangkan akan bisa terhapus oleh satu pengalaman yang menyakitkan,” ujar Muhadjir.
Penjelasan terkait sulitnya soal-soal UN tahun ini khususnya mata pelajaran Matematika, juga disampaikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdikbud. Yang mana dalam sebuah edaran menyebut tim pembuat soal telah berusaha menyusun soal-soal terebut berdasarkan kisi-kisi yang diumumkan sejak sekitar bulan Agustus 2017. Kisi-kisi tersebut sudah sesuai dengan kompetensi dasar dan wajib diajarkan oleh guru-guru sebagaimana dijabarkan dalam kurikulum serta dituangkan dalam buku Matematika.
“Memang sejak tiga kali UN terakhir ini, kisi-kisi dibuat umum/generic, tidak spesifik mengarahkan ke suatu bentuk soal tertentu. Tujuannya agar pembelajaran di sekolah tidak terjebak pada proses drilling soal-soal UN, guru wajib mengajarkan materi pembelajaran dengan mengedepankan pemahaman konsep,” tulisnya.
Soal-soal yang diujikan tersebut disusun dengan tingkat kesulitan yang berbeda, dari 40 soal terdapat sekitar empat hingga lima soal yang dikategorikan sulit dan memerlukan penalaran tingkat tinggi atau HOTS. Namun, hasil UN tahun ini juga akan dianalisis untuk mendiagnosa topik-topik yang harus diperbaiki di setiap sekolah pada tiap-tiap mata pelajaran UN. Hasil analisis didistribusikan ke semua Dinas Pendidikan agar ditindaklanjuti dengan program-program peningkatan mutu pembelajaran.
“Guru-guru hendaknya menjadikannya alat refleksi dan acuan untuk peningkatan kompetensinya. Saya harap hasil ujian ini dapat menjadi cermin yang jujur dan yang terpenting pendorong perbaikan mutu pembelajaran,” jelasnya.
Di sisi lain, pihak kementerian akan segera melakukan evaluasi atas muatan-muatan UN dengan melibatkan para pakar bidang ilmu, guru-guru, dan berbagai pihak yang relevan. Masukan demi perbaikan kedepan juga turut diharapkan dari semua pihak.
Sementara itu, Kepala SMAN 6 Malang, Drs, Hariyanto, M.Pd, menambahkan, surat edaran dari Balitbang tersebut merupakan respon positif di lembaga yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan UN.
“Kita berfikir positif, semoga rencana Balitbang segera dilaksanakan dan membawa pencerahan untuk pendidikan khususnya penilaian dan pembelajaran di satuan pendidikan Indonesia,” imbuh Hariyanto. 
Hal yang paling utama, lanjutnya, adalah peningkatan kompetensi guru di bidang pembelajaran dan penilaian khususnya pembelajaran abad 21. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...