Kreasi Labu Jadi Kuaci hingga Yogurt


MALANG - Labu kuning yang terkenal dengan rasa tawarnya, kini diolah menjadi beragam kudapan sehat yang baik untuk diet. Tak percaya, silahkan Anda datang ke SMK Putra Indonesia Malang. Anda akan menemukan kreasi pangan mulai dari yogurt, mayonaise, risol mayo, selai, nastar, hingga kuaci yang terbuat dari bahan dasar labu kuning. Kudapan tersebut dikreasikan oleh dua tim dari jurusan Kimia Industri SMK PIM yang baru-baru ini meraih juara satu dan tiga dalam event Festival Food and Art Universitas Widyagama Malang.
“Di daerah Purwosari sudah ada kreasi kuaci dari labu kuning, hanya saja tidak seramai kuaci dari biji matahari. Sehingga, tim kami mencoba mengembangkan pengolahan kuaci dari labu kuning berbeda dengan penambahan rasa-rasa yakni rasa keju dan bawang,” ujar Cahya Hidayati, usai ditemui Malang Post, kemarin.
Siswi jurusan Kimia Industri ini membeberkan, produknya yang dikenal sebagai kuwara yakni kuaci waluh rasa-rasa ini berhasil menjuarai kompetisi tingkat kota. Bersama kedua rekannya Andini Widyawati dan Exel Marcellin Ferdinand Syah mengolah kuaci dari biji waluh dengan sistem double driying, sehingga seluruh bijinya dapat dikonsumsi.
“Biji labu ditimbang, dicuci kemudian dikukus menggunakan garam. Selanjutnya direbus untuk mengurangi kadar air dan disangrai dengan penambahan rasa keju dan bawang, lalu dioven sampai kering dengan suhu 180 derajat 10-15 menit,” ungkap siswa berjilbab ini.
Tak hanya mengolah kuaci rasa-rasa saja, setidaknya dua produk lain seperti roinsolles dan mawa juga ditampilkan di depan juri. Roinsolles adalah singkatan dari risol dari labu dan mawa yakni mayonaise waluh.
“Untuk pembuatan mayonaise tergolong mudah, dimulai dari labu yang dicampur putih telur dengan susu dan cuka, kemudian ditambah minyak sayur. Tahap akhir, adonan dipanaskan dengan mixer. Sementara roinsolles sendiri dibuat juga dengan kulit risol yang terbuat dari tepung labu,” beber siswi kelas XB tersebut.
Sementara itu, tim kelas XI jurusan Kimia Industri yang digawangi oleh Agung Budi Prasetyo juga berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi yang sama. Agung bersama Charisa Delinda Pradisti dan Nathaniela Pastri Sudiro mengolah labu kuning menjadi tiga jenis kudapan yakni Butternut (Nastar Labu Kuning), Culai (Cucurbita Selai), dan Yola (Yogurt Labu Kuning).
“Kami mengolah labu kuning yang tidak banyak orang suka menjadi yogurt. Sebab banyak yang suka dan yang tahu manfaatnya,” ujar Agung Budi Prasetyo, siswa kelas XI E itu.
Agung melanjutkan, yogurtnya dimulai dari proses fermentasi selama 18-20 jam. Susu dan starder dicampurkan dengan labu kuning yang sudah dikukus. Mereka telah menguji coba sebanyak dua kali, hingga menemukan formulasi yang tepat. Berbeda dengan yogurt, pembuatan selai dicampurkan bersama nanas dengan perbandingan tiga nanas dan 140 gram labu kuning. “Proses pembuatannya dimulai dengan nanas dipanaskan diteflon dan ditambahkan labu kuning dengan perbandingan tadi,” bebernya.
Sementara dalam pembuatan nastar, labu diekstraksi menjadi tepung labu. Hal ini digunakan untuk mensubstitusi tepung terigu. Satu labu sedang akan menghasilkan 250 gram tepung yang kemudian diolah menjadi nastar. “Pembuatan nastar seperti pada umumnya, dengan menggunakan tepung labu yang tetap dicampur terigu dengan perbandingan 1:3,” singkatnya.
Atik Dina F dan Erni Rachmawati, tim teaching pengelolahan industri kimia rumah tangga sekaligus guru pendamping kedua tim mengaku, biji labu kuning yang diolah menjadi kuaci memiliki serat yang tinggi, sehingga baik untuk diet. Dalam proses pengolahan, dipastikan tidak mengurangi kandungan gizi karena memperhatikan pemanasan olahan. Selain itu, berangkat dari resep secara umum, pengolahan ini tergolong mudah karena hanya diganti dengan tepung labu kuning. “Pengembangan ke depan, karena produk komersil dan siap jual. Sehingga diperlukan kesiapan kemasan untuk dipasarkan serta pengujian ketahanannya,” tandas Atik Dina F.
Sementara itu, Kepala SMK Putra Indonesia Malang, Siti Zubaidah SPd mengapresiasi kreativitas siswanya. Menurutnya, meski bersaing dengan siswa jurusan teknologi pangan, namun siswa SMK PIM Kimia Industri tetap dapat eksis, mulai dari membuat produk unggulan, analis produk hingga penjualan. Pengembangan materi yang ada diaplikasikan dalam pembelajaran tematik dengan para guru ahli. Jadi siswa mampu membuat dan menganalisis kondisi gizi hingga layak atau tidak produk dijual dengan teknik kewirausahaan yang efektif. Tak hanya bahan pangan, siswa SMK PIM  juga mampu memproduksi kebutuhan rumah tangga, seperti shampo, sabun hingga bahan bakar.
“Mereka tidak boleh berhenti, semua siswa SMK PIM diberi kesempatan yang sama. Harus berani, percaya diri dan mampu bekerja sama dengan tim sehingga mampu meningkatkan soft skill mereka,” pungkasnya.
SMK Putra Indonesia Malang Program Keahlian Kimia Industri dan Farmasi Industri membuka pendaftaran gelombang I, 1 Februari- 6 Mei 2018 dan gelombang II 8 Mei-30 Juni 2018. Informasi pendaftaran kunjungi website putraindonesiamalang.or.id. Dapatkan formulir pendaftaran gratis dengan membawa potongan berita ini. (mg3/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :