Ludruk PPST Kota Malang Lakonkan Tak Dadi Aku Ae


MALANG – Tim Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) kota Malang yang sebagian besar diwakili oleh siswa SMAN 10 Malang, kemarin (8/8) bertolak ke Jogjakarta untuk mengikuti pagelaran Pekan Teater Nasional yang berlangsung 9 hingga 16 Agustus. Mereka akan menampilkan ludruk berjudul ‘Tak Dadi Aku Ae’ yang menceritakan tentang perjuangan seorang siswa mempertahankan mimpinya untuk menjadi penari di tengah konflik keluarga.
Ailsha Maurilla, siswa kelas 12 didapuk memerankan tokoh bernama Sofiani. Diceritakan, cita-cita Sofiani menjadi penari mendapatkan pertentangan dari sang kakak perempuan, Sofiana. Pasalnya, kehidupan menjadi anak keluarga seniman nyatanya tidak membawa mereka dalam kebahagiaan. Sang kakak harus tersingkir dari panggung lantaran berasal dari keluarga tak mampu, dan mendiang sang ibu yang seorang penari, memiliki penghasilan yang tidak tetap.
“Sofiani ini ceritanya anak yang baik, tapi dia bingung karena terus dimarahin sama kakak dan bapaknya. Dia pengen terus nari tapi nggak boleh sama kakak, karena penghasilan penari itu nggak tentu. Sementara kakaknya yang sekarang jadi karyawan, juga takut kena PHK karena cuma lulusan SMA,” ujar Ailsha.
Berperan sebagai Sofiani, perannya dituntut untuk banyak menangis. Puncaknya adalah saat adegan sang kakak membuang piala miliknya dan berkata ‘Lek nari mandek’o sekolah, lek sekolah mandek’o nari. Lek nari, klambimu tak obong. Lek nari, mandek’o dadi adekku,’ (kalau menari berhentilah sekolah, kalau sekolah berhentilah menari. Kalau menari, bajumu aku bakar. Kalau menari, jangan jadi adikku, Red)
Meksi begitu, Ailsha mengaku tidak terlalu kesulitan dalam dialog karena menggunakan bahasa daerah sehari-hari.
Keikutsertaan tim PPST ini didahului oleh undangan dari Kemendikbud melalui wali Kota Malang, untuk mewakili Jawa Timur dalam gelaran ini. Tahun 2016 lalu tim PPST ini memenangkan lomba ludruk tingkat nasional yang digelar di TMII untuk kategori Sutradara dan Penyaji Terbaik, dan kemenangan bergengsi lainnya di tahun 2014 dan 2015.
“Dari situlah kemudian kami diundang untuk tampil bersama dengan sembilan tim lainnya dari berbagai provinsi di Indonesia. Suatu kebanggan bagi kami, karena pelatihnya sendiri datang dari Kemendikbud untuk membantu kami mengemas pertunjukan menjadi lebih menarik,” ungkap Ketua Rombongan, Farida Hayati.
Terdiri dari 21 siswa, tim PPST beranggotakan 14 siswa dari SMAN 10 Malang, dua siswa pengrawit dari SMPN 24 Malang dan siswanya dari seniman Kota Malang. Pelibatan seniman kota Malang ini sebagai bentuk regenerasi seni budaya kepada kalangan muda. Dengan arahan sutradara Tri Suhariyadi, ludruk akan disajikan dalam durasi waktu satu jam.
“Kalau ludruk zaman dahulu ceritanya lebih mengarah pada konflik yang berat, untuk kali ini  kemasannya akan modern dengan menceritakan cita-cita sesuai dengan usia mereka, dan kisah pelajaran serta masalah di kehidupan sehari-hari. Dengan arahan dari seniman, Kemendikbud, dan latihan sejak bulan Maret, kami optimis bisa menampilkan yang terbaik,” kata Farida. (mg19/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...