Atasi Kenakalan Remaja, SMPN 19 Bentuk Ekskul Detektif


MALANG - Penelitian ilmiah yang menarik tidak melulu berbicara tentang teknologi. Fenomena sosial seperti kenakalan remaja juga ternyata menjadi bahan penelitian menarik di SMPN 19 Malang. Sekolah membentuk ekstrakurikuler bernama Detective School (Detool) demi meminimalisir kenakalan siswanya.
Penelitian ini kemarin dipresentasikan dalam lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) yang digelar Dinas Pendidikan Kota Malang. Layaknya detektif, 23 anggota tim Detool bekerja secara sembunyi-sembunyi melaporkan tindakan teman-temannya yang melanggar peraturan sekolah.
"Kalau ada teman yang melanggar peraturan, kami akan bantu laporkan kepada BK dan kesiswaan. Jadi teman-teman tersebut bisa langsung mendapatkan arahan dari guru dan tidak mengulanginya lagi," ungkap salah satu siswa anggota ekskul yang memilih merahasiakan namanya.
Karena menjadi detektif, nama-nama anggota ini memang sengaja dirahasiakan. Alasannya agar tim ini bisa lebih bebas memantau temannya.
Dalam presentasinya kemarin, tim Detool yang diwakili tiga orang, membawa majalah dinding tiga dimensi dari bahan stereofoam sebagai miniatur Balai Kota dan Tugu. Hal ini menggambarkan kenakalan remaja khas anak-anak ada di semua sekolah yang ada di Kota Malang.
Selain tim SMPN 19, ada sekitar 73 judul penelitian lainnya yang dipresentasikan kemarin. Penilaian dilakukan tim juri dari Universitas Brawijaya dan pengawas Kota Malang.
Selain tim Detool, SMPN 19 Malang juga mengirimkan Siti Khodijah dan Mauliddyah Evalyanti, siswi kelas 8 dalam penelitian membuat pestisida alami untuk membunuh ulat pemangas buah, menggunakan limbah kulit bawang merah. Kulit bawang merah yang banyak ditemukan sebagai limbah, dikeringkan lalu direbus dengan air dalam proporsi tertentu dan ditambahi garam untuk menetralkan cairan. Rebusan kulit bawang merah yang disemprotkan di daun, dapat membuat pencernaan ulat terganggu dan lama kelamaan akan mati.
“Sudah lima kali percobaan dan gagal di takaran. Sekarang sudah nemu takaran yang tepat untuk buat ulat mati di hari ketiga penyemprotan,” ujar Mauliddya.
Untuk percobaan kedua menggunakan tanaman kunyit yang banyak tumbuh di lingkungan mereka. Ide ini sebenarnya sudah dimiliki keduanya sejak satu tahun yang lalu, namun baru terlaksana sekarang setelah cukup mengumpulkan informasi mengenai kandungan zat yang terkandung di dalam kulit bawang merah, dan manfaatnya.
“Di kulit bawang merah ada zat acetogenin dan squamosin. Squamosin ini kalau sampai kena di daun kemudian termakan oleh ulat, ulatnya sama seperti tidak makan apa-apa karena nutrisi di daun tidak dapat tersalurkan ke seluruh tubuh,” kata Mauliddya.
Kedua tim tentu mengharapkan kemenangan, terlebih di tahun sebelumnya SMPN 19 Malang menjadi juara pertama dalam ajang serupa. Hal yang sama disampaikan oleh pembimbing LPIR, Nifa Indah.
“Targetnya memang lolos dan mempertahankan juara, itulah yang sedikit berat. Semoga adik-adik berhasil di presentasi ini, mengingat nilai presentasi itu proporsinya yang paling besar,” ujarnya.
Kabid Pembinaan SMP, Siti Ratnawati, SH, M.Pd seleksi LPIR di tingkat Kota ini ditujukan untuk mengikuti lomba di tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. LPIR diadakan dalam tiga lomba bidang, yakni IPA dan Lingkungan, IPS Kemanusiaan, Seni dan IPTEK dan Rekayasa.

“Harapan kami anak-anak di kota Malang jadi terbiasa dan mampu meneliti, melakukan analisa dan menulis permasalahan sesuai dengan bidangnya. Sebelumnya mereka telah memaparkan masalah, beserta solusinya dalam sebuah makalah. Presentasi kali ini, mereka harus bisa mempertanggung jawabkan pekerjaan mereka melalui tanya jawab,” kata Ratna.
Dari lomba ini, nantinya akan diambil 10 tim untuk dilakukan pembinan dan diikutkan dalam ajang nasional yang akan diselenggarakan sekitar bulan Oktober nanti. Dianggarkan untuk 100 siswa, nyatanya lomba ini diikuti oleh 188 siswa, membuktikan bahwa anak-anak di kota Malang senang melakukan penelitian.
“Kalau sudah selesai itu saya sering merasa heran, ternyata anak-anak itu pintar. Ada saja solusi yang bisa mereka temukan. Saya bangga sekali. Guru-gurunya juga getol,” papar Ratna. (mg19/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :