Wirausaha Lahirkan Manusia Bermartabat


MALANG – Wirausaha Saja, seperti judulnya, buku karya Noor Shodiq Askandar SE MM akan mempengaruhi mindset pembaca untuk menjadi seorang wirausaha keren. Menjadi hal yang sulit, sebab selama ini mindset masyarakat hanya sekadar jadi pegawai.
Wakil Rektor II Unisma ini mulai berani menerbitkan bukunya sendiri bekerjasama dengan Penerbit Erlangga. Sejak 13 tahun terakhir ini, Shodiq sapaan akrab Noor Shodiq Askandar selalu menulis tentang sedekah dan wirausaha. Dari tulisan tersebut, dia hanya berani untuk menerbitkan sendiri sekaligus membagikan bukunya secara gratis.
“Awalnya, saya mencetak secara mandiri sebanyak 500 buku dan diedarkan gratis kepada orang yang saya kenal. Erlangga merubah mindset saya, agar cakupan manfaat dari buku yang saya tulis lebih luas, maka saya harus mulai menerbitkan buku,” ungkapnya.
Gus Sodiq, sapaan akrabnya membeberkan, buku Wirausaha Saja ini ditulis karena visi kewirausahaan di masyarakat selama ini masih kurang. Indonesia sebenarnya memiliki banyak keunggulan, namun potensi SDM tidak maksimal. Banyak keunggulan komparatif tapi tidak diubah menjadi keunggulan kompetitif.
“Misalnya tanah Indonesia ini terkenal subur dengan menghasilkan banyak ragam anggrek, tapi orang cenderung membeli anggrek di Thailand kan. Lebih sering masyarakat Indonesia mencintai produk asing,” tandasnya.
Dia menilai pentingnya berwirausaha diimplementasikannya dari ayat-ayat Alquran ajaran Rasulullah SAW. Tak lupa, ajaran Sunan Drajat yang diingatnya selama ini, wehono klambi wongkang mudo, wehono payung wongkang kudanan, wehono mangan wongkang keluwen. Sehingga dapat disimpulkan dengan berwirausaha, mampu menjadikan manusia lebih bermartabat dengan menciptakan nilai tambah kepada orang lain.
“Solusi yang baik adalah menghidupkan wirausaha melalui kampanye tulisan,” tandasnya.
Dia membeberkan, buku wirausaha saja ini ditulis karena visi kewirausahaan di masyarakat selama ini masih kurang. Indonesia sebenarnya memiliki banyak keunggulan, namun potensi SDM tidak maksimal. Banyak keunggulan komperatif tapi tidak diubah menjadi keunggulan kompetitif.
“Misalnya tanah Indonesia ini terkenal subur dengan menghasilkan banyak ragam anggrek, tapi orang cenderung membeli anggrek di Thailand kan. Lebih sering masyarakat Indonesia mencintai produk asing,” tandasnya.
Menurut survey, orang Indonesia juga dinilai kurang produktif. Tingkat produktivitas masyarakat Indonesia masih dibawah orang ASEAN sebesar 5%. Artinya, masyarakat Indonesia harus introspeksi diri sendiri. Berkaitan dengan prestasi, Indonesia masih minim. Berbeda dengan yang jelek seperti korupsi, Indonesia dinilai juara.
“Bahkan, di tingkat ASEAN Indonesia selama delapan tahun ini mempertahankan diri sebagai negara terkorup,” tuturnya.
Buku wirausaha saja ini dikemas praktis, simpel dan lengkap mulai dari pengertian hingga cara mengembangkan usaha. Di dalam buku juga membahas pajak serta technopreneur dengan pembahasan mudah yang dilengkapi grafis dan beberapa contoh praktis.
“Saya mengharapkan dengan buku yang diterbitkannya ini, mampu menggairahkan ilmu menulis di lingkungan civitas akademika Unisma,” papar pria yang fokus pada entrepreneur sosial ini.
Sementara itu, Sekertaris Yayasan Unisma, Drs Mustain MPd mengapresiasi launching buku karya dosen Unisma ini. Menurutnya, kegiatan tulis-menulis sebagai projek corps Unisma untuk menjadi virus positif yang berkembang kepada anggota komunitas di Unisma maupun untuk eksternal. Issue kewirausahaan sebagai issu penting dan fundamental untuk mahasiswa perlu diedukasi sejak dini. “Salah satu problem besar yang dihadapi perguruan tinggi yakni adanya kesenjangan jarak yang dipelajari saat bangku kuliah dengan dunia real sebagai ladang pengabdian mahasiswa saat lulus nanti. Sehingga kami berkomitmen dapat meluluskan mahasiswa yang siap kerja dan berjiwa entrepreneur,” imbuhnya. (mg3/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :