Kreatif, Pasir Kucing Bahan Limbah Tahu


MALANG – Menampung keluhan dari para pecinta kucing dan petshop di kota Malang yang kebingungan membuang kotoran hewan kesayangannya, membuat tiga mahasiswa jurusan Biologi UM yakni Muhammad Kreshna Pangabdi, Widya Ayu Wulandari, dan Livia Nur Khofifah berinisiatif membuat pasir kotoran kucing dari batuan bentornet. Produk bernama Krawil sand ini menjadi salah satu karya kreatif mahasiswa yang dipamerkan dalam entrepreneur day UM.
“Tak hanya dari batuan bentornet, pasir kucing ini juga diolah dari limbah tahu dan sayuran yang dibuat dalam bentuk granula. Sedangkan, untuk mengurangi aroma bau tidak sedap pada kotoran kucing, kami menambahkan ekstrak deodoran beraroma melon, lavender, dan jeruk,” ujar Muhammad Kreshna Pangabdi, yang ditemui Malang Post, kemarin.
Mahasiswa semester enam ini mengaku usaha krawil sand ini sudah berlangsung selama satu tahun terakhir. Setiap minggu, setidaknya 15-20 ton pasir kucing dapat diproduksi. Sementara produk sudah dipasarkan ke beberapa daerah, seperti Malang, Blitar, Kediri dan Surabaya. Pasir kucing dikemas seberat tiga kg dengan harga Rp 10 Ribu. “Sejauh ini, pasir tersebut untuk kucing tapi sebenarnya jika ditujukan untuk hewan lain juga bisa. Biasanya konsumen menggunakan pasir ukuran tiga kg ini selama dua minggu. Soal produksinya, kami membuat pasir kucing yang dijual sebanyak 15 ton per minggu,” ungkapnya.
Pasir kotoran kucing ini diproduksi dengan menghaluskan bahan baku mentah dengan mess100 dan alat grinding selama 1,5 jam. Setelah tahap granulasi selesai, granula tersebut ditambahkan aroma deodorant.
“Pameran kewirausahaan ini menjadi trigger mahasiswa yang selama ini mindsetnya cenderung sebagai pegawai. Selain itu, sebagai mahasiswa biologi kita dapat mengembangkan potensi dan inovasi,” bebernya.
Peserta pameran kewirausahaan ini menggunakan modal sendiri. Tim juri akan menilai untuk 20 produk wirausaha terunik yang nantinya mereka akan mendapat dana pengembangan usaha dari kampus kisaran Rp 4-8 Juta tergantung proposal jenis usaha. Setelah mendapatkan dana, minimal 3 tahun mereka akan dimonitoring kampus. Sebagian peserta berasal dari mahasiswa semester enam dan delapan. “Selain itu, mahasiswa ditargetkan setelah lulus mampu berwirausaha sendiri. Tahap selanjutnya, mahasiswa diharapkan mampu membentuk CV,” imbuh Kasubag Kesejahterahan Mahasiswa UM, Subur Hariono. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :