Teliti Kasus Cacingan, Selamatkan Peternak dari Kerugian


MALANG - Peringatan Hari Kartini menjadi momen istimewa bagi Prof. Dr. Lili Zalizar, M.S. Hari ini, Lili akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kesehatan Ternak di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Perempuan kelahiran 30 Maret 1962 tersebut berharap, dengan diraihnya gelar ini ia dapat memotivasi para dosen-dosen muda UMM untuk segera meraih gelar Guru Besarnya. Ke depannya, Lili juga ingin lebih mengembangkan diri untuk menerapkan ilmu kepada masyarakat luas.
“Supaya ilmu itu ada gunanya. Jangan hanya jadi jurnal, buku atau laporan penelitian. Itu kalau disusun sudah sampai langit,” ungkapnya dirilis Humas UMM.
Lebih lanjut Lili menyampaikan, walaupun sudah menjadi Guru Besar dirinya berkomitmen untuk tetap mengaplikasikan tridarma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Seorang profesor menurutnya, harus bisa membagikan ilmunya dengan baik kepada mahasiswa juga dalam penelitian dan pengabdian masyarakat.
“Tiga hal tersebut harus berjalan sempurna,” tegasnya.
Lili yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kesehatan Ternak akan menyampaikan orasi ilmiah tentang “Peranan Kesehatan Ternak Dalam Peningkatan Produktivitas Ternak, Perekonomian dan Kesehatan Masyarakat”. Penilitian ini menurut Lili,  sangat bermanfaat bagi para peternak ayam.
Dari riset yang dilakukan Lili tentang dampak infeksi cacing dan obat cacing (antelmintika) di Kabupaten Malang, Jombang, Blitar dan Kediri diketahui bahwa penggunaan obat cacing yang tidak tepat, justru menimbulkan kerugian yang besar pada peternak.
Dari penelusuran yang dilakukan Lili pula didapat fakta bahwa hampir semua peternak memberikan obat cacing pada ayam petelur tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Selain itu, sebagian besar peternak menggunakan antelmintika jenis yang sama selama bertahun tahun, bahkan lebih dari tiga tahun. Hal ini dapat memicu resistensi obat.
“Hasil penelitian ini juga membuktikan sudah ada indikasi terjadinya resistensi  cacing terhadap obat cacing. Pada beberapa ayam petelur di Blitar dan Kediri yang sudah diobati, dalam jangka dua sampai empat minggu sudah ditemukan telur cacing didalam fesesnya,” tambahnya.
Meski dianggap remeh, penyakit cacing yang ada di dalam tubuh ayam sangat membahayakan. Ini bahkan menjadi salah satu penyebab kerugian besar yang dialami peternak.
“Kenapa saya tertarik, justru karena penyakit cacing ini diabaikan oleh peternak. Tapi sebenarnya ini  bisa dikatakan musuh dalam selimut, diam-diam setelah beberapa lama akan tampak kerugiannya," tambahnya.
Selain penelitian tersebut, Lili juga meneliti obat herbal yang dapat digunakan sebagai obat cacing pada ternak.
"Ini dibuat dari bawang putih, getah pepaya dan ekstrak biji labu merah," pungkasnya. (oci/adv)

Berita Terkait

Berita Lainnya :