Tanamkan Nilai Keislaman Dan Nasionalisme


MALANG - Kegiatan puncak tema sekaligus peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad dan Hari Kartini di SDIT Ahmad Yani berlangsung semarak. Acara perlombaan yang diikuti siswa dan orangtua mewarnai kegiatan yang puncaknya digelar pada Sabtu (21/4) kemarin. Melalui kegiatan ini, SDIT Ahmad Yani menjadi wadah yang mensinergikan potensi dan kreatiftas anak dan orangtua dalam bingkai acara keagamaan dan nasionalisme.
Sesuai tema yang diangkat, SDIT Ahmad Yani tidak hanya mengajarkan nilai-nilai keislaman, namun juga nilai nasionalisme sebagai bentuk Cinta Tanah Air. Nilai tersebut diimplementasikan dalam bentuk perlombaan yang dilaksanakan selama dua sejak Hari Jumat (20/4) lalu.
Hari pertama, dimeriahkan dengan kegiatan lomba salat berjamaah dan mading. Waka Bidang Keuangan dan Sarpras SDIT Ahmad Yani, M. Syafi’i, M.Si mengatakan dari masing-masing lomba memiliki kriteria penilaian. Pada lomba salat berjamaah ada tiga poin penilaian yaitu gerakan, bacaan dan kekompakan. “Bacaannya harus dikeraskan sehingga diketahui kebenarannya, dari situ kami juga menilai kekompakan tiap kelompok peserta,” katanya.
Demikian juga mading, terdapat kriteria tersendiri. “Kalau mading ini kita lombakan antar kelas. Semuanya dengan kriteria penilaian yang sama antara kelas bawah dan kelas atas,” tambahnya.
Hari pertama juga dimeriahkan dengan Dongeng Islami oleh Kak Agus dan Si Untung. Materinya tentang peristiwa Isra Miraj. Melalui dongeng islami ini, siswa-siswi SDIT Ahmad yani dapat lebih mudah memahami akan peristiwa Isra Miraj, terutama ajaran syariat yang terkandung di dalamnya, yaitu perintah salat. “Itu yang paling utama, bahwa salat itu merupakan perintah pokok dalam Islam, yang tidak bisa ditawar. Setiap muslim wajib melaksanakannya, dalam kondisi dan situasi apapun. Anak-anak kami harus tahu itu,” ucap Kepala SDIT Ahmad Yani, Mutini, S.Pd kepada Malang Post.
Adapun di hari kedua kegiatan fokus dalam semarak Hari Kartini. Acara dimeraihkan dengan lomba fashion islami oleh siswa dan lomba memasak oleh orangtua. Dengan memakai baju adat tradisional daerah, para siswa dengan kemampuannya tampil dalam pentas fashion. Di depan juri dan penonton, para peserta tampak percaya diri, meskipun sebagian masih ada yang terlihat malu.
Kendati demikian, semuanya sukses menampilkan karya terbaik sebagai bukti akan kecintaan pada pahlawan bangsa. “Lomba ini merupakan ajang untuk unjuk kreatifitas anak-anak. Yang penting mereka mampu tampil berani dan berusaha maksimal,” ungkap Mutini.
Sementara itu, di area yang lain, ibu-ibu orangtua siswa tampak sibuk dengan lomba memasak. Bahan utamanya kentang dan timun. Dari dua bahan utama tersebut, masing-masing berkreasi untuk menghasilkan makanan dan minuman yang sehat dan lezat.  
Ketua Komite SDIT Ahmad Yani, Andriyanti Cahyaningrum, ST mengatakan pihaknya sangat senang dengan agenda sekolah yang melibatkan orangtua. Dengan demikian maka sinergitas di lingkungan sekolah semakin kuat. “Kami sangat senang dan orangtua sangat antusias sekali. Mereka tidak merasa direpotkan dan semuanya berjalan sesuai dengan harapan,” ucapnya.
Ia berharap di masa yang akan datang SDIT Ahmad Yani semakin maju dan menjadi lembaga pendidikan sesuai harapan masyarakat. “Kita tidak bisa puas dengan apa yang dihasilkan sekarang, tapi perlu terus dilakukan pembenahan untuk mencapai kemajuan,” pungkasnya. (imm/sir/)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...