UNBK di SMPN 1 Pakis, Kasek Kena Vandalisme Korupsi


MALANG – Konflik mewarnai pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMPN 1 Pakis. Pasalnya, sehari sebelumnya, Minggu (22/4) terjadi aksi vandalisme di gedung sekolahan itu. Sejumlah dinding sekolahan dicorat-coret dengan tulisan yang menuntut Kepala SMPN 1 Pakis, Gatot Taufik Qurohman SPd mundur dari jabatannya.
Berbagai tulisan sebagai bentuk protes salah satunya, “Gatot Koruptor, Turunkan”. Tulisan itu seperti berada di papan tulis salah satu ruangan kelas di sekolahan tersebut. Kemudian ada tulisan berukuran besar “Gatot” pada salah satu dinding. Diduga yang melakukan corat-coret merupakan siswa yang tak puas kepemimpinan Gatot.
Namun, ketika Malang Post berkunjung ke sekolahan tersebut, coretan sebagai bentuk aksi protes itu sudah tidak ada. Diduga coretan yang dilakukan pada Sabtu (21/4) malam hari itu sudah dihapus oleh pihak sekolahan. Lantaran terdapat bekas seperti cat luntur di salah satu dinding sekolahan yang diduga tulisan tersebut telah dihapus
Menurut salah seorang warga sekitar yang enggan namanya dikorankan, membenarkan kejadian di sekolahan itu. “Minggu, saya didatangi pihak sekolah bertanya apa ada yang melompati pagar sekolahan saat malam hari? Kemudian saya jawab tidak tahu,” urainya.
Warga ini melanjutkan, kemudian pihak sekolah juga bertanya kepada warga lainnya yang berada di sekitar sekolahan.
“Katanya, corat-coretnya diduga dilakukan pada hari Sabtu malam dengan melompat pagar depan. Kalau lompat melalui dinding belakang sekolahan, tidak bisa karena terlalu tinggi,” imbuh warga tersebut.
Sementara itu, terkait aksi vabdalisme itu, Malang Post mendapat keterangan dari seorang sumber terpercaya. Ia meminta identitasnya dirahasiakan. Sumber itu mengatakan, bahwa aksi protes itu dilakukan karena murid beserta orang tua wali murid sudah gerah dengan kepemimpinan Gatot. Ini buntut kejadian tahun 2017 silam, Gatot diduga melakukan pungutan liar (Pungli) kepada siswa sebesar Rp 225 ribu dengan alasan digunakan membeli laptop untuk kakak kelasnya.
“Saat itu, siswa kelas satu yang baru masuk, dibebankan pungutan uang sebesar Rp 225 ribu untuk membeli laptop bagi kakak kelasnya yang akan melaksanakan ujian. Inikan aneh. Kok bisa laptop untuk kakak kelas dibebankan kepada siswa yang baru masuk,” tegas sumber terpercaya ini. Sehingga, kata dia, terjadilah aksi protes seperti itu.
Menurutnya, sejak pungli yang dilakukan tahun 2017 silam tersebut, tidak ada tindak lanjut dari Dinas Pendidikan Kabupaten Malang dan masalah itu seperti menguap begitu saja. “Maka dari itu, siswa serta orang tua wali murid gerah akan masalah itu. Kemudian melakukan aksi ini. Karena dia (Gatot) sudah melakukan Pungli,” kata sumber ini.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Pakis, Gatot Taufik membantah telah terjadi aksi protes vandalisme tersebut. “Kami tengah konsentrasi melaksanakan UNBK, tidak ada aksi seperti itu. Bisa dilihat sendiri, kondisi sekolahan berlangsung normal,” ucapnya kepada Malang Post. Dia juga membantah telah melakukan Pungli kepada siswa.
“Tidak benar pungli itu, tidak ada,” imbuhnya.
Sementara itu, terkait permasalahan ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Malang belum bisa dikonfirmasi. Hingga berita ini ditulis, pesan aplikasi melalui WhassApp yang dikirmkan Malang Post, kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Dr M Hidayat MM tidak dibalas.
Sedangkan ketika dihubungi melalui nomor ponselnya, terdengar nada sambung namun tidak diangkat.(big/ary)

Berita Lainnya :

loading...