Pelajar Australia Belajar Membuat Tempe


MALANG – Sebanyak 12 pelajar Australia berkunjung ke Sanan Industri untuk melihat proses pembuatan tempe dari pengrajinnya langsung, Selasa (25/4). Kunjungan ini merupakan salah satu rangkaian program Sister School Australia yang diadakan oleh SMAK Kolase Santo Yusup (SMAK Kosayu).
Selain pelajar Australia, 10 siswa SMAK Kolase juga ikut serta berkunjung ke Sanan Industri. Mereka diajak melihat proses pembuatan tempe di salah satu rumah warga jalan Sanan Gang 17 Malang. Antusiasme pelajar beda negara ini terlihat ketika mereka diberi penjelasan mulai dari proses perendaman kedelai, peragian, hingga proses fermentasi.
Pendamping SMAK Kosayu Dra. Honggowati mengatakan, tujuan kegiatan ini supaya mereka mendapatkan pengalaman yang belum dilakukan, khususnya keripik tempe merupakan salah satu oleh-oeh Kota Malang yang banyak dicari wisatawan.
“Kegiatan ini sekaligus bentuk kerja sama kami dengan sekolah di Australia yang sudah sekitar empat tahun kami lakukan,” ujar Honggowati.
Bahkan dalam kunjungan ke Sanan Industri ini siswa SMAK Kosayu ikut serta membuat tempe yang sudah diberi ragi. Mereka sangat cekatan ketika memasukkan tempe yang telah direndam tersebut ke dalam kantong-kantong plastik yang telah dilubangi.
Di sisi lain penjelasan dari Ketua PKK RW 15 mengenai industri ini menarik perhatian Sue, guru Bahasa Indonesia di Australia. Sue penasaran dengan berapa pendapatan yang diperoleh oleh pengrajin tempe ini. Ketertarikan ini berlanjut saat Sanan Industri mendapat pengawasan dokter dan mendapatkan sertifikat pengakuan Internasional mengenai kehigienisan hasil produksinya.
Sue, mengatakan, kebanyakan siswa yang ikut ke Indonesia adalah siswanya. Ia sangat senang bisa berkunjung ke Malang dan Sanan Industri, pasti sangatlah menarik melihat  proses pembuatan tempe yang biasanya di makan baik dalam bentuk tempe goreng maupun kripik tempe.
“Kami dan pelajar kami sangat terkesan bisa berkunjung ke sini, karena sangat berbeda sekali antara Indonesia dan Australia, terutama dalam bidang makanan, jalannya, dan kebudayaannya, bahasanya, dan juga iklimnya,” ujar Sue, yang sudah mulai belajar Bahasa Indonesia sejak 25 tahun yang lalu. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...