Mahasiswa Perlu Diajarkan Mocopatan


MALANG – Tradisi lisan macapatan yang mulai punah dihidupkan kembali secara informal dalam Dialog Nasional Pancasila, di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM, kemarin. Menghadapi tantangan rendahnya minat bahasa lokal saat ini, membuat FIS UM juga berencana akan menyisipkan budaya lisan seperti Macapatan masuk dalam bagian kurikulum.
“Kami mengenalkan macapatan terbaru dengan cara berdialog dengan menembang macapatan. Pengalaman di daerah-daerah, macapatan masuk dalam materi tingkat SD, seharusnya di tingkat perguruan tinggi juga dapat didisisipkan ke mata kuliah antropologi budaya tentang bagaimana ragam budaya salah satunya mocopatan,” ujar Kajur Prodi PPKn FIS UM, Suparlan Al Hakim, yang ditemui Malang Post, kemarin.
Dia melanjutkan, ada kelangkaan generasi untuk mengenal tradisi lisan macapatan saat ini. Pentingnya bagaimana menautkan dalam tembang nilai kearifan pada generasi muda. Indonesia punya banyak seni daerah yang bersifat lisan dan memiliki kekayan pitutur panduan.
“Jika tidak dipelajari sendiri, maka orang asing yang akan lebih tahu tentang budaya kita. Macapatan menjadi bagian dari kepribadian berkebudayaan yang mampu diterapkan pada generasi dan perlu dimaksimalkan dalam pendidikan formal dan non formal atau informal seperti saat ini,” ungkapnya.
Selain macapat, mahasiswa FIS juga mempelajari panumbromo yang mempelajari nilai bahasa lokal. Keduanya memang disampaikan dalam bentuk nembang bahasa Jawa dengan irama halus yang mampu menanamkan nilai moral pada generasi muda.
“Satu sisi, mahasiswa juga dituntut mengenal bahasa asing, namun tidak boleh mengabaikan bahasa lokal. Hanya 40% mahasiswa FIS UM yang mampu memahami macapatan dengan baik dan ini masih tergolong rendah,” tutur Dekan FIS UM, Prof Dr Sumarmi MPd.
Rendahnya minat budaya lokal ini, membuat lulusan FIS UM memiliki tantangan yang besar saat menjadi guru PPKN nanti. Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Wisnuwardhana, Prof Suko Wiyono yang juga turut hadir dalam Dialog Nasional Pancasila tersebut. Menurutnya, banyak sekali nilai luhur yang didapatkan dari macapatan seperti gotong royong, menepati janji, dan kejujuran yang sekaligus juga merupakan nilai pancasila. Sehingga kedepan, macapatan juga dapat disisipkan dalam mata kuliah di FIS untuk menyiapkan lulusan calon guru PPKn kompetitif. “Budaya lisan sudah mulai punah dan menurut saya perlu ditambahkan dalam kurikulum perkuliahan FIS. Sebab, tantangan guru PPKN semakin berat, antara nilai yang ada dengan kenyataan di lapangan yang jauh. Sehingga mereka harus dibekali budaya lisan agar saat menjadi guru nanti, ilmunya selama mengajar dapat dikembangkan,” imbuh Rektor Universitas Wisnuwardhana yang sekaligus Ketua Senat UM itu. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...