Lulusan Ilmu Budaya Berpeluang Go International


MALANG – Tak hanya berprofesi sebagai ahli bahasa, peluang lulusan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) ternyata lebih luas. Sehingga, dalam mempersiapkan lulusan yang kompetitif, FIB UB juga membekali mahasiswa dengan teknologi.
“Saya berasal dari fakultas ekonomi, sebelumnya anggapan saya bahasa ya begitu-begitu saja. Setelah saya masuk sini, ternyata luas sekali. Peluang lulusan FIB lebih luas, tak hanya sekadar jadi guide saja, tapi juga mampu berkarir di lembaga internasional,” ujar Dekan FIB UB, Prof Dr Agus Suman SE, DEA, yang ditemui Malang Post, kemarin.
Dia melanjutkan, kemampuan bahasa sangat penting dalam perputaran dunia, sehingga lulusan FIB sebenarnya dapat diterima di berbagai bidang. Bahkan, industri film saja juga membutuhkan lulusan dari FIB. Selain itu, FIB UB juga bekerja sama dengan Jepang selama 13 tahun, sekaligus mengembangkan program magang di sana.
“Ini peluang besar bagi lulusan karena sudah banyak mahasiswa yang magang di sana dan langsung direkrut. Sebelumnya, mereka juga berprestasi dengan memenangkan kompetisi nasional maupun internasional,” ungkapnya.
FIB UB yang merupakan cikal bakal pendidikan kursus berusia sembilan tahun ini, berupaya berkembang dalam rangka menghadapi perubahan untuk terus mampu bersaing di luar. Tak hanya kompetensi kebahasaan saja, mahasiswa harus memiliki kemampuan khusus dalam bidang teknologi. Terlebih, tantangan terbesar saat ini yakni menghadapi perbedaan generasi.
“Generasi dulu dan sekarang itu berbeda sekali. Generasi 90-an yang disebut generasi z saat ini, kebanyakan sudah bisa memanfaatkan teknologi. Tidak hanya memahami ilmu, kami mengupayakan pemanfaatan teknologi juga penting agar mereka siap bersaing nasional maupun internasional,” tandasnya.
Selain itu, pentingnya mahasiswa FIB UB mampu meningkatkan pengetahuan budayanya. Agus bersyukur mahasiswanya cenderung aktif dalam mengadakan berbagai acara kebudayaan untuk mengapresiasi kebudayaan asing yang dipelajari di FIB UB.
“Selain kebahasaan dan teknologinya, mahasiswa juga perlu lebih jauh memahami budaya. Kita harus mampu membedakan kompetensi mahasiswa FIB UB dengan tingkatan SMA jurusan  bahasa yang sama-sama mempelajari bahasa. SMA sama perguruan tinggi tentu beda tingkatannya,” imbuh pria berkacamata ini. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...