Lusi dan Aurel Kuasai 12 Gerakan Remo


MALANG - Unmer Malang menyiapkan tiga robot tangguh untuk menyambut kompetisi KRI pada 1-3 Mei mendatang, di Polinema. Aurel dan Lusi, robot penari siap berlaga di KRI. Robot yang vakum dua tahun ini mampu menari Remo setelah lagu dibunyikan. Lusi berfungsi sebagai master dan Aurel bermain untuk menirukan gerakannya.
"Dua robot ini akan bermain dengan sistem bluetooth yang diseting dan mampu menari 12 gerakan wajib dari Kemenristekdikti. Nilai plus robot pada aksesorisnya yang menyerupai tari Remo asli," ujar salah satu anggota tim, Eko Wahyu Prasetyo.
Kendala yang dihadapi yakni masalah pairing ludruk dan menyeimbangkan jalan, gerakan tangan serta koding tarian. Lusi dan Aurel ini belum lancar gerakannya karena bluetooth di server terkadang mendahului bahkan tertinggal.
"Persiapannya 80% dengan memperhalus gerakan dan mencari marker lagu yg tepat. Penilaian utama terkait keluwesan gerakan dan ketepatan gerakan robot," ungkapnya.
Selain itu, dua robot direpair dan dioptimalkan kembali, sementara satu robot baru dirakit untuk kategori kompetisi pelontar.
"Robot Cracker dan Banker merupakan robot pelontar yang juga ikut di KRI yang bersaing dengan 20 robot se-Jawa Timur," ujar mahasiswa Fakultas Teknik Unmer Dwi Agung Al Ayubi kepada Malang Post, kemarin.
Dia melanjutkan, robot yang menghabiskan biaya sebesar Rp 5 juta ini berguna untuk melontar bola dari titik tertentu dan harus memasukkan bola menuju ring. Terdapat tiga kategori perlombaan yakni, melempar bola melalui jarak tiga meter dengan tinggi ring dua meter, jarak 4,5 meter dengan tinggi yang sama dan jarak 4,5 meter dengan tinggi 3 meter. Kendala umum robot ini pada motor penggerak, pelempar dan tekanan dengan bola yang dilempar berukuran diamer 12 cm.
"Kendala pada kemiringan sudut dan tekanan angin yang mempengaruhi. Jadi peluang masuk ring 50:50," tandasnya.
Tak kalah dengan dua robot sebelumnya, Salamander yakni robot pemadam api yang berkaki dan beroda juga akan memadamkan api pada lilin di bangunan miniatur. Seperti namanya, robot ini memiliki sensor untuk mencari api kemudian mematikannya.
"Robot akan menelusuri ruang yang ada saat menemukan api dan akan kembali ke tempat asalnya. Tingkat keberhasilan sensor masih 50%," ujar Danu Syaiful Abu Bakar.
Kendala lainnya yakni pemantulan air yang tidak sempurna dan sensitivitas yang kurang. Selain itu, robot harus memenuhi ketepatan waktu untuk menyisir ruangan dengan waktu 5 menit, tiga menit untuk mencari api dan dua menit harus kembali ke posisi awal. Melawan robot dari 32 perguruan tinggi lainnya, Salamander sebelumnya pernah meraih juara empat tingkat nasional sehingga nanti saat kompetisi diharapkan dapat kembali juara.
"Instalasinya yang sulit, kalau ada konslet sendiri ya bahaya. Kami merepair ulang dengan total biaya Rp 7 juta- Rp 8 juta," imbuhnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :