42 Perguruan Tinggi Bersaing di Kontes Robot Polinema

 
MALANG – Pelaksanaan Kontes Robot Indonesia (KRI) 2018 di Politeknik Negeri Malang (Polinema) berlangsung meriah. Sebanyak 97 tim dari 42 perguruan tinggi dari berbagai regional IV, mulai dari Jawa bagian timur, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua berkompetisi untuk meraih gelar juara. 
Juara terpilih nantinya akan maju ke tingkat nasional melawan tiga regional lainnya. Mewakili Dirjen, Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Mahasiswa Dirjen Belmawa, Misbah Fikrianto memukul gong tanda dimulainya kompetisi  Kontes Robot Indonesia (KRI) 2018 didampingi  Direktur Polinema, Drs Awan Setiawan MM. 
KRI 2018 yang terdiri dari lima divisi, yakni Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Humanoid, dan Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda. 
 “Ada empat regional yang melaksanakan KRI mulai dari regional satu di Universitas Riau, regional dua di Universitas Tarumanegara Jakarta, regional tiga di Universitas PGRI Semarang, dan regional empat di Polinema,” ujar Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Mahasiswa Dirjen Belmawa, Misbah Fikrianto.
Menurutnya, kegiatan ini akan dilanjutkan pada 10-14 Juli mendatang, ke tingkat nasional di Yogyakarta. Tiga divisi terbaik tingkat nasional nantinya akan dikirim ke tingkat internasional. Dia melanjutkan, sportifitas dan prestasi harus dijunjung tinggi dalam kompetisi.
Pelaksanaan yang bertahap dan tak terpisahkan antar regional ini diapresiasi tinggi oleh Dirjen Belmawa. Harapannya menghasilkan prestasi mahasiswa dibidang robot meliputi teknologi, digitalisasi, dan geonomik. 
“Terlebih, saat ini kami sedang menghadapi revolusi 4.0 yang menekankan aksi IT intelejen, big data, dan science teknologi,” ungkapnya.
Misbah menilai, pada KRI 2018 terdapat 10 dewan juri dari perguruan tinggi nasional, mulai dari ITN, Pens Surabaya, UGM, ITB, dan UI. Panitia benar-benar menyiapkan kompetisi dengan maksimal mulai dari lapangan dan teknis, sehingga pelaksanaan KRI 2018 di Polinema dinilai luar biasa. 
“Kualitas penyelenggaraan dan lapangan, kami menilai begitu luar biasa dengan persiapan yang hanya satu bulan saja. Sehingga kedepan, diharapkan mampu meningkatkan pendidikan vokasi yang berdaya saing dengan kualitas terbaik untuk nasional maupun internasional,” bebernya.
Secara nasional, pelaksanaan KRI 2018 animonya meningkat 10 persen-15 persen, termasuk dari sisi jumlah perguruan tinggi terutama wilayah Indonesia Timur. Pada KRI dimulai untuk kompetisi tingkat nasional dulu, baru dilanjutkan ke internasional untuk tiga divisi yakni kontes robot pemadam api di Amerika, kontes robot ABU di Vietnam, dan kontes robot sepakbola tahun lalu di Tokyo tahun ini di Monrea.
“Untuk animo KRI 2018 sudah meningkat, karena Indonesia wilayah Timur sudah pada ikut, dulu Sulawesi dan Bali. Hampir setiap tahun para peserta berprestasi dengan mendapat emas,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana KRI 2018, Indrazno Siradjuddin mengaku kualitas permainan para peserta telah berkembang. Hal ini dilihat dari sensor yang dipakai. Selain itu, kompetisi robot yang tergolong baru adalah robot penari remo.
“Secara kualitas sangat berkembang, sensor yang dipakai up todate, sehingga robotnya cerdas dan permaianan secara total semakin seru. Yang spesial juga tari remo karena satu-satunya kontes robot tari budaya,” imbuhnya. (mg3/aim) 

Berita Lainnya :

loading...