Petakan Kebutuhan Siswa, Buka Kelas Atlet Hingga Kelas Kerja

 
SALAH satu kesalahan dalam dunia pendidikan yakni membentuk siswa sesuai dengan pola pikir orang kebanyakan. Siswa dianggap pintar kalau nilai matematikanya bagus. Padahal, setiap siswa memiliki kecerdasan yang berbeda. Pemikiran itulah yang mendasari  Drs. Rusdi, M.Si, Kepala SMA Nasional Malang untuk membuat sebuah kelas atlet bagi mereka yang cerdas di bidang ini. Mereka tak lagi dipaksa unggul di bidang matematika, atau IPA, namun diistimewakan berdasarkan apa yang mereka suka.
Di awal masuk, sekolah bekerja sama dengan sebuah lembaga konsultasi untuk mengetahui arah kemampuan siswa. Sehingga dapat membantu siswa dengan memberikan program belajar yang sesuai dengan kecerdasan siswa.
“Masyarakat kita sering menggeneralisir kecerdasan hanya pada bidang tertentu, padahal saya yakin untuk menjadi sukses hanya memerlukan satu kelebihan,” ujar Rusdi.
Oleh karena itu, sekolah tidak sayang harus menggelontorkan uang sebesar Rp 400 ribu per siswa untuk mengetahui bakat mereka. Bila hasil tes menunjukkan siswa unggul di bidang Kimia, misalnya, namun dalam kenyataannya siswa memiliki nilai rata-rata, maka sekolah yang akan menggenjot upaya guru.
Bagi siswa yang berkemampuan lebih di satu bidang, sekolah membuat kelompok anak angkat. Sistemnya kurang lebih sama seperti kelas olimpiade, namun agar tak terkotak, grup yang terdiri dari ibu angkat dan anak angkat ini belajar tanpa terjadwal.
“Misalnya suatu waktu guru meminta anak angkatnya mengerjakan suatu latihan soal, mereka akan dengan senang hati mengerjakan karena didasari rasa suka pada bidang itu. Diberi latihan soal yang banyak dan tiba-tiba pun mereka enjoy,” ungkapnya.
Terdiri dari siswa yang berasal dari kondisi ekonomi menengah ke bawah, tentu tak semua berakhir dengan kuliah. Di kelas 12, sekolah membagi dua kelas menjadi kelas kerja dan kelas kuliah dimana pada tahun lalu, angkanya terbagi di 38 siswa yang akan bekerja dan sisanya yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Bagi siswa dengan orientasi bekerja, sekolah memiliki proyek 100 persen siswanya tidak boleh menganggur.
“Untuk ini kami mendapatkan apresiasi dari Kementerian langsung karena mereka 100 persen bekerja sebelum menerima ijazah. Yang kuliah pun juga 30 persen melanjutkan ke PTN melalui jalur SBMPTN, dan sebagian besar mendapatkan beasiswa,” imbuhnya.
Kuncinya yakni pada prestasi sekolah dan attitude siswa yang dibentuk di sekolah. Bahkan, beberapa perusahaan telah memesan siswa sebelum mereka lulus.
“Sekolah membuat kontrak dengan perusahaan, kalau siswa kami bermasalah sampai enam bulan, maka uang gaji akan kami kembalikan. Walaupun ini belum pernah terjadi sebelumnya karena memang aturan di sekolah kami yang ketat,” ujarnya.
Diantara aturan ketat tersebut, yakni bagi siswa yang tidak masuk selama tiga hari tanpa adanya keterangan, maka akan dikeluarkan. Input sekolah juga tak main-main, dengan hanya menerima peringkat satu hingga sepuluh SMP.
Dengan berbagai program yang dicanangkan sekolah, tak heran bila pada tahun 2016 ini SMA Nasional Malang mendapatkan penghargaan sebagai The Most Improvement School in Quality Education Program of the Year dalam Best Indonesia Education Quality Awards,  The Best Leading School in Quality Education of the year 2016, dan Program Pendidikan dan Bimbingan Terbaik Penghargaan Prestasi Sekolah 2016. (mg19/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...