Mahasiswa Kenalkan Kopi Celup Karangploso


MALANG – Jika ada teh celup, maka jangan heran anda juga dapat mengonsumsi kopi celup yang praktis. Hal ini adalah inovasi baru yang dikembangkan mahasiswa Manajemen Internasional UB dengan menghadirkan kopi celup yang berasal dari kopi lokal kota Malang. Tak heran, jika produk ngopilah ini mampu menarik perhatian kalangan muda. Bahkan, dalam satu bulan saja, kopi celup produk sosiopreneur ini mampu terjual 16 pack yang berisi 102 kantong.
“Sebagian besar penikmat kopi dari kalangan muda cenderung menggemari kopi dari luar kota Malang. Padahal, di daerah lokal juga memiliki potensi perekebunan kopi dengan kualitas bagus, salah satunya kopi dari Karangploso,” ujar Achmad Ghazali, mahasiswa Manajemen Internasional FEB UB, yang ditemui Malang Post pada pameran entrepreneur day FEB UB, kemarin.
Dia melanjutkan, kopi Karangploso kurang mendapat perhatian masyarakat. Sebab, kopi di daerah Malang yang lebih terkenal selama ini masih kopi Dampit. Selain itu, harga kopi lokal saat ini juga cenderung menurun. Sehingga, perlunya memunculkan kopi lokal yang digemari masyarakat, salah satunya kopi Karangploso. Setidaknya petani di daerah kaki gunung arjuno Karangploso mampu memanen kopi 10-20 kg, sedangkan saat musim panen tiba sekitar bulan Juni-Juli mereka mampu memanen kopi sebanyak 50-100 kg.
“Bagaimana caranya kita mampu menjembatani peningkatan konsumsi kopi serta pembudidayaan kopi di Malang. Kami ingin menyuport petani dengan meningkatkan taraf harga kopi lokal. Kami beli langsung dari petani berupa biji selama sebulan ini,” ungkapnya.
Achmad membeberkan, Kopi Karangploso terdiri dari jenis arabika dan robusta, sementara untuk kopi yang mereka gunakan adalah kopi arabika dengan karakteristik asam. Terinspirasi dari metode pembuatan kopi fee 60 dengan menggunakan filter kopi mirip teh celup, menjadikan produk mereka tampil lebih praktis. “Dengan metode celup ini menjadi lebih unik, praktis dan tidak ada ampas saat digunakan Tapi karena produk kami tidak menggunakan pengawet, maka kami hanya membeli biji kopi petani mulai tiga sampai lima kg saja tergantung pemesanan,” bebernya.
Sementara itu, Hans Candra juga menuturkan kopi celup ini telah menempuh banyak percobaan hingga menemukan takaran pas. Dia juga mengaku mandapat bantuan dan konsultasi dari petani Karangploso untuk menemukan formula kopi celup yang tepat. Satu kilogram kopi mampu menghasilkan 70 pack dan setiap kantongnya hanya sekali pakai. “Berkali-kali takaran tidak pas, bahkan kami pernah tidak mau bikin lagi, hingga kami juga mengonsultasikan pada petani disana. Satu pack berisi enam kantong seharga Rp 20 ribu, sementara ini untuk pemasaran dari gerai milik sendiri sekaligus melalui sistem online. Di pameran entrepreneur day saja, kami banyak yang ingin mencoba dan laku 21 pack,” imbuhnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :