Rektor Baru Harus Berambisi Kejar Reputasi


MALANG - Siapapun rector yang terpilih nantinya, salah satu tugas beratnya adalah menjaga reputasi akademik melalui pemeringkatan kampus.
“Percepatan akreditasi prodi A harus disegerakan dengan memfokuskan prodi yang telah terakreditasi B gemuk. Selama ini Rektor juga mendanai setiap tahun untuk akreditasi tersebut. Dengan adanya pusat pemeringkatan saat ini, tentu pekerjaan Rektor baru lebih terbantu nantinya. Setiap rektor terpilih harus fokus pada pemeringkatan UB,” ujar Ketua LP3M UB, Ir Achmad Wicaksono M Eng PhD.
Ambisi untuk tetap menjadi kampus papan atas terlihat dari dibentuknya Pusat Pemeringkatan di Kampus UB. Lembaga baru ini dibentuk berdasarkan surat keputusan rektor Maret lalu.
“Ini bentuk perhatian Rektor untuk menjaga kualitas pendidikan di UB dengan membentuk pusat pemeringkatan. Sebab harus ada tanggungjawab masing-masing unit untuk pemeringkatan. Ini tugas bersama,” ujar Pusat Pemeringkatan UB, Ir Agus Suharyanto M Eng PhD yang ditemui Malang Post, kemarin.
Dia melanjutkan, tantangan bagi UB tentu persaingan antar universitas yang setiap tahun terus meningkat. Sehingga banyak indikator yang harus diperhatikan untuk meningkatkan reputasi akademik UB yang termasuk dalam salah satu program Bisri. Setiap lembaga pemeringkatan memiliki indikator tersendiri dan UB memegang beberapa penilaian wajib seperti dari Dikti, Quacquarelly Synonds (QS), webometric dan greenmetrics.
“UB perlu memperhatikan setiap indikator penilaian lembaga-lembaga tersebut. Mulai dari reputasi akademik, reputasi lulusan, paper, jurnal yang dihasilkan, jumlah dosen dan mahasiswa asing,” ungkap pria yang membeberkan indikator QS.
Penilaian wajib yang dipantau UB adalah dari Dikti. Meski UB menjuarai PIMNAS 2017, prestasinya tak membuat UB meningkat rangkingnya, bahkan tahun ini turun menjadi peringkat 8 dari sebelumnya posisi kelima. Hal ini dibeberkan Agus, disebabkan karena perubahan indikator penilaian.
“Yang perlu kita evaluasi dari QS yakni branding UB agar kualitas mampu terjaga dan paper dosen dapat terus meningkat. Sedangkan evaluasi terkait penilaian Dikti adalah akreditasi yang harus ditingkatkan dan juga paper terindeks scopus,” tuturnya.
Pemeringkatan berdasarkan greenmetrics dari Universitas Indonesia, bahkan menilai terkait kebijakan, tindakan, dan kampanye kelestarian lingkungan hidup. Hal ini menurut Agus, UB perlu memperhatikan lokasi dan ukuran kampus, penyediaan area hijau, konsumsi listrik dan air, carbon footprint, transportasi di kampus, menejemen sampah dan limbah, serta perhatian terhadap perubahan isu lingkungan hidup.
“Sedangkan versi greenmetrics ini, yang menjadi tantangan pemimpin UB yang baru nanti adalah penggunaan listrik dan air serta masalah transportasi sekaligus lahan parkirnya yang hingga kini belum ditemukan solusi,” tandasnya. (mg3/oci)

Berita Lainnya :

loading...