Panitia SBMPTN Nyaris Kecolongan


MALANG – Panitia ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) nyaris kecolongan, kemarin. Pasalnya, ada dua peserta kelompok campuran, menginput data sebagai penyandang tuna netra, padahal mereka dalam kondisi normal. Belum jelas maksud dan tujuan dua peserta yang mengerjakan ujian di UIN Maliki tersebut.
“Kami meralat jumlah peserta difabel kelompok campuran yang total berjumlah tiga orang. Ternyata, setelah rapat verifikasi dua peserta tidak tuna netra. Untungnya panitia juga melakukan pengecekan ulang pada sekolah yang bersangkutan,”  terang Wakil Rektor 1 UIN Maliki, Dr. H. M. Zainuddin, kepada Malang Post.
Zainuddin menegaskan hal itu saat melakukan monitoring pelaksanaan SBMPTN kelompok Soshum di Universitas Brawijaya. Kata dia, sebelum pelaksanaan ujian SBMPTN kelompok campuran, mereka segera dipindahkan pada ruang seperti peserta normal. Tentu, sebelum menempatkan mereka pada ruang yang seharusnya, terlebih dahulu panitia melakukan verifikasi ulang.
Diakui Zainuddin, pelaksanaan SBMPTN berjalan lancar, namun panitia tetap melakukan pengecekan jika ditemui hal yang mencurigakan. Termasuk dua peserta kelompok campuran yang sebelumnya didata sebagai penyandang tuna netra. Bahkan, panitia juga melakukan proses verifikasi saat ditemukan foto di ijazah peserta yang tidak sesuai.
“Sesuatu yang ganjil segera kami atasi. Seperti kemarin, kami juga menemui foto ijazah yang tidak sesuai dengan peserta. Panitia langsung melakukan verifikasi dan klarifikasi kepada peserta, sehingga jelas,” ungkapnya.
Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama UIN Maliki Malang, Drs H Achmad Heru AH MSi, juga memberikan keterangan. Bahwa tahun lalu bahkan ada peserta yang memakai sandal. Sehingga panitia meminta agar peserta meminjam sepatu segera sebelum mengerjakan soal ujian.
“Untung tahun ini sudah tidak terjadi lagi peserta yang memakai sandal saat pelaksanaan ujian SBMPTN kelompok campuran. Sehingga, kami gencar menyosialisasikan jangan menggunakan sandal saat ujian,” urainya.
Pelaksanaan ujian SBMPTN tahun ini dinilai lebih ketat. Seluruh Panlok 55 Malang bersinergi melakukan berbagai cara mengantisipasi kesempatan peserta untuk melakukan tindakan curang. Mulai dari penambahan CCTV, random soal, regulasi tegas peserta yang datang terlambat, hingga kerjasama dengan go-jek.
“Tentu go-jek yang menyebar di beberapa titik memudahkan peserta yang datang terlambat. Ini juga mempercepat penunjukan lokasi, khususnya bagi peserta yang belum tahu UB,” ujar Rektor UB, Prof Dr Ir Mohammad Bisri MSi.
Salah satu driver go-jek, Mahmudi, mengaku dipermudah oleh UB dengan dapat mengakses masuk kampus. Maka ia wajib memperhatikan aturan tertentu, misal tidak boleh ngetem sembarangan. Pria asli Karangploso mengatakan kebetulan ia baru saja mengantarkan peserta yang order.
“Sekarang, karena sudah banyak sekali driver lain, jadi tidak seramai dulu. Tapi saya tidak ada target tutup poin, tergantung rezeki saja,” tandas pria yang dari jam 14.00 WIB telah mendapat 10 orderan tersebut.

Berita Terkait

Berita Lainnya :