Kepandaiannya Dikagumi Putu Wijaya

BILA ada  yang sering melihat seorang master of ceremony (MC) di acara Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur di Kota Malang, maka bisa dipastikan itu adalah Mila Irawati, S.Pd. Perempuan cantik itu adalah guru bahasa Indonesia di SMPN 20 Malang. Tak hanya memiliki suara bagus yang membuatnya sering mendapatkan tugas sebagai MC, namun di masa mudanya, dia pernah dua kali duet baca puisi dengan Putu Wijaya, dan beberapa seniman kondang lainnya.

“Beberapa waktu yang lalu saya dapat tawaran untuk menjadi protokoler di Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, tapi saya tolak karena saya tidak mungkin meninggalkan keluarga di Malang dan anak-anak di SMPN 20,” ujar wanita 30 tahun tersebut.


Semuanya berawal dari ketidaksengajaan. Saat mengikuti Kursus Pembina Pramuka yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi kala itu, dirinya secara tidak sengaja dan tiba-tiba diminta untuk menjadi MC. Seolah ketagihan, setiap kali ada acara Dinas Pendidikan Provinsi di Kota Malang, dirinyalah yang diminta langsung oleh panitia provinsi.
Kegiatan MC sudah sering dilakukannya semenjak berkuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, UMM. Saat duduk di semester dua tahun 2010 lalu, dirinya dipercaya menjadi MC di acara gelaran puisi Putu Wijaya. Dua hari sebelum acara, MC ditiadakan. Dirinya justru diminta membaca pusi berduet dengan Putu Wijaya.
“Dua minggu kemudian beliau ada acara di UM, namun juga meminta saya untuk membaca puisi lagi berlatih dengan beliau. Bahkan pak Putu sendiri lah yang datang ke UMM untuk nyamperin saya, latihan bareng,” ujarnya.

Kedekatannya dengan Putu juga berlangsung hinga beberapa saat kemudian. Setiap kali Putu Wijaya datang ke Malang, dirinya selalu diminta menemui. Bahkan Putu pernah berujar jika seumur hidup, dia hanya pernah naik motor satu kali, yakni ketika dibonceng oleh Mila. Setiap kali dia mengalami kesulitan pelajaran, Putu sigap membantu.
“Beliau tidak pernah pelit ilmu. Saya bertanya satu kalimat, dijawab berpuluh-puluh kalimat. Bahkan saat mengerjakan skripsipun, beliau meminta saya menunjuk satu topik, nanti beliau akan bantu dan carikan bukunya,” ujarnya.
Kedekatannya dengan dunia panggung telah bermula sejak kecil. Di kelas 5 SD, Mila pernah bermain peran dengan Ria Enes dan boneka Susan-nya. Juga pernah satu panggung bersama dengan Hadad Alwi, berlakon sebagai Putri Raja Firaun. Darah seninya mengalir dari ayahnya yang seorang pemain ludruk, dan kakaknya yang menyukai sinden.
Setelah lulus SMA, Mila tidak langsung kuliah, namun memutuskan untuk bekerja. Dua tahun kemudian, cita-citanya menjadi guru sejak kecil kemudian muncul lagi. Akhirnya, dia memutuskan untuk kuliah di pagi hari, dan bekerja di sebuah restoran di malam harinya. Dia kemudian tak hanya menjadi guru bahasa Indonesia biasa. Siswanya diminta untuk membuat puisi atau cerpen, untuk kemudian dikumpulkan satu kelas, dibendel dan dipajang di perpustakaan.
“Banyak orang yang meremehkan. Kata mereka, apa hasilnya belajar bahasa Indonesia. Dengan menulis puisi atau cerpen, siswa bisa membuktikan ini lho hasil saya belajar bahasa Indonesia. Cerpen dan puisinya bisa mereka simpan, dibaca sendiri, atau dibaca saat mereka dewasa nanti,”
Dengan prinsip hidup ‘setiap kali melangkah keluar rumah, saya membawa nama orang tua’, membuat Mila selalu berupaya menjadi pribadi yang baik dan memberikan upaya yang terbaik terhadap apa yang dilakukannya. (mg19/oci)

Berita Lainnya :