Akses Sulit, SMPN 7 Berharap Dilalui Rute Bus Sekolah


MALANG – Sekolah bergembira menyambut akan hadirnya bus sekolah yang rencananya akan tambah armada. Selain dapat mengakomodasi siswa yang kesulitan karena keterbatasan transportasi umum, juga dapat mengurangi kemacetan yang timbul akibat padatnya kendaraan orang tua saat mengantar atau menjemput putra-putrinya.
Salah satunya yakni di SMPN 7 Malang yang terletak di Jl. Lembayung, Bumiayu, Kedungkandang. Letak sekolah berjarak sekitar satu kilometer masuk ke dalam gang dari jalan besar. Memang terdapat beberapa angkutan umum yang lewat di depan gang yang terletak tidak jauh dari sekolah, namun jumlahnya pun tidak banyak.

Kepala SMPN 7 Malang Supriyanto, S.Pd. M.Pd mengaku sebelumnya pernah mendengar dari Wali Kota Malang H. Mochamad Anton bahwa akan ada penambahan bus yang dikhususkan untuk siswa di sekolah yang sulit terakses kendaraan umum di daerah Kedungkandang, salah satunya SMPN 7 Malang. Menyambut makin dekatnya realisasi hal tersebut, Supriyanto mengaku senang.
“Ini adalah bentuk perhatian dari Pemkot untuk siswa yang berada di sekitar sekolah kami. Karena beberapa sekolah di kelurahan Bumiayu selama ini mengalami masalah kesulitan akses kendaraan,” ujarnya.
Karena sulitnya transportasi, selama ini banyak siswa yang harus diantar jemput oleh orang tuanya. Hal ini menuai masalah baru, diantaranya macet karena jalanan yang sempit, namun jumlah kendaraan yang bertumpuk di jam yang sama.
“Apalagi sekolah kami yang letaknya masuk di dalam gang yang lumayan kecil ini, kadang menyulitkan juga kalau penjemput menunggu di pinggir jalan. Bisa membuat macet,” ujarnya.
Sekolahpun juga telah mengimbau orang tua untuk menurunkan anak mereka atau menunggu jam pulang sekolah dengan memarkir kendaraannya agak jauh dari mulut gang, meskipun harus membuat siswa berjalan agak jauh untuk sampai di sekolah. Meski tidak diperbolehkan, beberapa siswa juga harus membawa kendaraan sepeda motor sendiri. Sekolah mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk hal ini.
“Dilema sekali sebetulnya menyaksikan anak-anak harus membawa motor sendiri ke sekolah. Tapi bagaimana lagi, yang penting kami tidak mengizinkan dengan tidak memberikan tempat parkir,” ungkapnya.
Selain karena masih di bawah umur, kondisi medan jalan menuju sekolah juga dinilai membahayakan. Sebut saja di daerah jembatan Kedungkandang daerah Mergosono yang merupakan asal dari sebagian besar siswa. Beberapa siswa yang yang berasal dari daerah setempat memilih membawa sepeda angin, namun jumlahnya tidak banyak.
“Hanya sekitar satu persen saja,” ungkapnya.
Dengan jalan yang sempit, kendaraan yang mungkin dapat melewati daerah tersebut yakni bentuk minibus. Hal tersebut telah sesuai dengan rencana Pemkot untuk menghadirkan minibus sebagai tambahan armada baru. (mg19/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...