Sekolah Selektif Pilih Guru Agama


MALANG - Sekolah di Kota Malang melakukan pengawasan ketat pada kegiatan keagamaan yang diikuti siswa di sekolah. SMAN 1 Malang misalnya, tidak mengizinkan orang luar untuk memberikan materi dalam kegiatan keagamaan di sekolah.
“Saya terus memantau kegiatan keagamaan di sekolah, pemateri tidak ada yang dari luar kecuali yang kami datangkan dari pondok pesantren saya sendiri. Karena guru agama harus betul-betul paham mengenai ilmu agama, jika gurunya salah memahami maka murid juga demikian,” ungkap Kepala SMAN 1 Malang, H. Musoddaqul Umam, S.Pd.,M.Si kepada Malang Post.
Di SMAN 1 ada unit kegiatan bernama Sie Kerohanian Islam (KSI). Menurut Mus, sapaan akrab Musoddaqul Umam, sekolah sangat ketat memilih pembimbing siswa. Ia juga berharap, lulusan SMAN 1 Malang tetap menjaga diri ketika berada di Perguruan Tinggi. Dengan tidak mengikuti kajian-kajian Islam sembarangan. Sebab saat ini banyak kelompok-kelompok yang tidak mengakui Indonesia, bahkan kelompok tertentu menggunakan nama agama Islam padahal tujuannya hanya untuk menghancurkan umat manusia.
“Kegiatan anarkisme, terosisme, itu sangat bertentangan dengan hati nurani, siapa yang melalukannya maka dia bukan Islam. Karena Islam mengajarkan kasih sayang dan saling menghormati bukan sebaliknya, Islam itu Rahmatan Lil’alamin. Jangankan manusia, menebang pohon saja itu haram hukumnya apabila tidak ada dasar atau alasannya,” pungkas Umam.
Ia menegaskan, untuk mencegah perilaku radikal di kalangan siswa, penguatan karakter sangat perlu ditingkatkan melalui kegiatan rutin. SMAN 1 Malang dalam hal ini setiap jumat menggelar Istgotsah yang diikuti oleh semua murid.
“Melalui kegiatan ini saya juga sering sekali menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW selalu mengajarkan rasa cinta kasih kepada semua umat. Seperti ketika Rosulullah ke Madinah dengan visi mengislamkan dunia, di kota tersebut sudah ada banyak kaum yahudi, nasrani, majusi, namun tidak pernah sekalipun Rosulullah membenci atau melawan meskipun mereka sering menghujat, justru Nabi Muhammad SAW membalasnya dengan kasih sayang yang tulus,” ujarnya.
Sifat santun dan mengasihi itulah yang ditekankan SMAN 1 Malang kepada siswa didiknya. Bahkan untuk memahami hal itu mereka dituntut untuk menghafal asmaul husna, bahkan bacaan bismillahhirrokhmanirrokhium itu saja sudah menunjukkan bahwa Allah itu maha pengasih, Rohman itu cinta kasih kepada semua umat, dan Rokhim kepada semua umat muslim.
Terpisah, Ketua Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kota Malang Dr. K.H Moh Sulthon, M.Pd, mengatakan, yang perlu dibenahi ke depannya yakni terkait kedisiplinan guru agama, visi misi, dan termasuk mentransformasikan ilmu kepada masyarakat umum khsususnya siswa.
“Karena guru agama merupakan garda terdepan untuk menghandle dari paham radikalisme,” ujarnya.
Menurutnya, apa yang terjadi saat ini itu merupakan paham dengan ilmu agama yang sangat dangkal, maka guru agama inilah yang akan memberikan ilmunya kepada masyarakat umum sehingga bisa hidup secara damai.
“Jadi itulah kewajiban guru agama untuk bisa mentransfer ilmunya itu tidak hanya dari knowledge atau pengetahuan saja, tetapi juga contoh uswatun khasanah,” pungkasnya. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...