Pendidikan Kewarganegaraan Diperkuat di Sekolah

 
MALANG - SMKN 7 Malang memiliki empat langkah untuk membentengi siswa dari ajaran radikalisme dan terorisme. Salah satunya yakni memperkuat pendidikan kewarganegaraan (civic education) dengan menanamkan pemahaman yang mendalam mengenai empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. 
Melalui pendidikan kewarganegaraan inilah para siswa didorong untuk menjunjung tinggi dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur sejalan dengan kearifan lokal. Seperti toleransi antar umat beragama, kebebasan yang bertanggungjawab, gotong royong, kejujuran, dan cinta tanah air serta kepedulian sesame warga masyarakat.
Guru PAI SMKN 7 Malang, Imam Ghozali, S.Ag., M.Pd.I, mengatakan, pencegahan yang kedua yakni mengarahkan para siswa pada berbagai aktivitas yang berkualitas baik di bidang akademis, sosial, keagamaan, seni budaya, maupun olahraga yang diwadahi dalam berbagai organisasi sekolah seperti OSIS, Pramuka, Badan Dakwah Islam (BDI), PMR, dan lain-lain.
“Kegiatan positif ini akan memacu mereka menjadi pemuda yang berprestasi dan aktif berorganisasi di lingkungannya sehingga dapat mengantisipasi mereka dari pengaruh ideologi radikal dan terorisme,” ujar Imam.
Menurutnya, pemahaman seputar agama yang damai dan toleran juga perlu digalakkan kembali di setiap sekolah supaya para siswa calon pemimpin ini tidak mudah terjebak pada arus ajaran radikalisme. Dalam hal ini peran guru agama di lingkungan sekolah dan para pemuka agama di masyarakat sangat penting untuk menyuarakan pesan damai pada saat pembelajaran di kelas maupun melalui ceramah keagamaan.
Yang tak kalah pentingnya, lanjutnya, yakni memberikan keteladanan kepada siswa dan generasi muda. Sebab, tanpa adanya teladan dari pada guru, tokoh agama, serta tokoh masyarakat maka upaya-upaya yang dilakukan akan sia-sia. Mereka inilah yang harus dapat menjadi role model yang bisa diikuti oleh para siswa dan generasi muda.
“Berbagai upaya dan pemikiran tersebut saat ini memang sangat penting dan mendesak untuk dilakukan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan penegak hukum terhadap para pelaku terorisme semata,” papar Imam.
Menurutnya, membentengi semaksimal mungkin secara bersama-sama baik oleh para pendidik, pemerintah, maupun masyarakat sipil dan pemuka agama, akademisi, pemuda, organisasi masyarakat, serta media massa harus bersinergi mencegahnya.
“Pencegahan terorisme dan paham radikalisme di kalangan siswa maupun generasi muda sebaiknya dilakukan secara bersama-sama dengan tujuan kemajuan bangsa. Karena merakalah yang akan melanjutkan dan  memegang tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa ini,” pungkasnya.
Pencegahan ajaran radikal juga turut dilakukan SMAN 5 Malang dengan menggalakkan kegiatan kajian keagamaan yakni mempelajari agama melalui guru dan kitab secara kaffah (utuh). Bahkan, rohani islam (rohis) yang bernama Badan Dakwah Islam (BDI) di sekolah ini menjadi bagian dari ekstrakurikuler.
Selain itu, paham radikalisme perlu ditangkal dengan kegiatan harian seperti seluruh siswa muslim wajib membaca Alquran bersama-sama dalam waktu 10 menit dan dipimpin oleh guru. Selanjutnya siswa akan menerika kultum dengan materi terkait keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Guru PAI SMAN 5 Malang, Eko Prasetyo, M.Pd.I, mengatakan, disamping itu juga ditanamkan sikap sosial kepada seluruh siswa melalui  kegiatan beramal, amal ini dilakukan seminggu tiga kali yakni hari senin, rabu dan jumat.
“Upaya lain yang kami lakukan yakni sekolah mengadakan kegiatan Khotmil Quran, Istigotsah, dan memperingati hari-hari besar Islam dengan mendatangkan mubaligh/kyai untuk memberikan siraman rohani dan wawasan keagamaan kepada siswa dan guru,”  imbuh Eko. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :