Gemar Tebar Kebaikan


Jadi guru sejak tahun 1978, Dwi Yulia Mintorowati, S.Pd selalu menekankan kepada siswa didiknya untuk tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Meskipun Ia bukan guru Pendidikan Agama Islam, namun syiar-syiar agama terus digalakkan, mulai kewajiban menjalankan ibadah lima waktu, menutup aurat bagi siswi perempuan, hingga menanamkan kepedulian kepada sesama umat beragama.
Sudah lima tahun sejak menjadi guru di SDN Blimbing 1 Malang, Yulia sapaan akrabnya terus menggalakkan rasa kepedulian siswa terhadap orang-orang di sekitarnya terutama bagi anak yatim. Di akhir semester dua, ia mengajak semua siswa di kelasnya untuk melakukan kunjungan bakti sosial ke beberapa panti asuhan yang tidak memiliki donator tetap. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun untuk meningkatkan jiwa sosial, rasa peduli kepada teman-temannya yang kekurangan, serta mengajarkan rasa syukur.
“Yang selalu saya tekankan kepada siswa yakni untuk rajin salat, karena ketika salatnya sudah bagus maka karakternya juga pasti baik, kalau sudah begitu anak tersebut akan mudah untuk diajak berbuat kebaikan,” ujar Yulia.
Yulia merasa terpanggil untuk selalu mengingatkan siswa didiknya melaksanakan salat. Ia dulunya juga aktif dalam PKK dan Paguyuban di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan sering mengajak para warga untuk ikut pengajian yang digelarnya.
Menurutnya, mengajak orang untuk berbuat kebaikan tidaklah mudah, apalagi mereka yang tidak begitu paham mengenai agama. Meskipun membutuhkan waktu lama untuk menyatukan semua orang namun pada akhirnya usahanya membuahkan hasil. Yang dulunya enggan ikut pengajian sekarang tanpa dirayu sudah berdatangan.
“Sampai saat itu Ustadnya mengatakan, berapapun yang hadir ke pengajian tersebut jangan dijadikan masalah, di hadapan Allah SWT nilainya sama karena yang dilihat bukanlah jumlahnya melainkan niat. Mengajak orang berbuat kebaikan tidak mudah, maka saya bersyukur ketika diakhir-akhir yang ikut sudah banyak sampai puluhan orang,” ujarnya.
Sudah enam tahun Yulia menggalakkan kegiatan pengajian di rumahnya, namun harus berakhir lantaran ia dan keluarga pindah rumah. Namun Yulia berkeinginan melanjutkan agenda rutinnya di lingkungan baru. Hanya saja, ia masih belum berani mengajak tetangganya tersebut lantaran masih belum begitu mengenal karakter masing-masing.
 “Selama masih diberi kesempatan, saya ingin terus berbuat kebaikan meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi, karena tidak semua orang baik dan sepaham dengan saya. Namun di lingkungan baru ini sudah banyak yang merespon baik dengan kegiatan di lingkungan sebelumnya,” imbuhnya.
Yulia juga selalu memberikan nasehat menutup aurat bagi siswi perempuan di kelas yang diajarnya. Pesan ini pada awalnya banyak ditentang oleh wali murid hingga mereka mendatangi sekolah melakukan protes. Dari situ kepala sekolah menjelaskan bahwa apa yang disampaikan oleh Yulia adalah untuk kebaikan sang anak dan tidak ada pemaksaan sedikitpun.
“Ya Alhamdulilah, sekarang siswa perempuan di kelas saya sudah berhijab semua. Sebelum memulai pelajaran saya juga memberikan tausiah meskipun hanya lima menit, dari tausiah yang saya sampaikan meskipun hasilnya tidak langsung namun ini sangat berguna bagi mereka suatu saat,” pungkas Yulia. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :