Ajak Anjal Sekolah di Desaku Menanti


MALANG – Tahun ajaran baru 2018/2019, SMA Kertanegara membuka program sekolah jarak jauh, dimana kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak dilakukan di sekolah melainkan di daerah tertentu. Bila sebelumnya sudah ada dua tempat yakni Pakis dan Batu, tahun ini akan ada di Desaku Menanti.
Program di Desaku Menanti, SMA Kertanegara bekerja sama dengan Dinas Sosial Kota Malang. Dimana guru akan datang ke desa tersebut untuk memberikan pelajaran sebanyak tiga kali dalam satu minggu. Melalui kerja sama ini akan ada simbiosis mutualisme antara kedua belah pihak.
“Sedikit banyak kerja sama ini akan saling menguntungkan, yang pertama SMA Kertanegara dapat murid, dapat beramal, kami juga bisa menyalurkan ilmu, serta Dinsos pun tertolong. Karena Dinsos banyak yang diurusi mulai dari keluarga miskin, perceraian anak usia sekolah, anak jalanan dan lain sebagainya. Tidak mungkin Pemerintah menitik beratkan program ini sepenuhnya ke Dinsos,” ujar Kepala SMA Kertanegara, Dra Yusmin Supriatiningsih.
Di sisi lain, melihat banyaknya lulusan SMP yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, SMA Kertanegara bertekad hati untuk mengantisipasi semakin maraknya anak jalanan, pengamen, dan seterusnya melalui pendidikan dan keterampilan. Meskipun kurikulum yang diusung akan berbeda dengan siswa regular, namun siswa di Desaku Menanti ketika lulus tetap mendapatkan ijazah sebagai siswa SMA Kertanegera.
“Intinya kurikulum yang kami berikan nanti adalah gabungan dari ilmu murni dan berbagai keterampilan, sehingga mereka nantinya bisa membuat sesuatu yang bernilai ekonomi,” terang Yusmin.
Lebih lanjut, SMA Kertanegara tertarik dengan program ini lantaran terinspirasi dengan SMA Selamat Pagi Indonesia yang diperuntukkan bagi anak yatim. Namun yang beda program ini khusus untuk anak jalanan yang mungkin dari minat belajar sangat kurang sekali, hanya saja KBM tidak dijadikan satu dengan siswa regular.
“Memang untuk mengawali ini sangat sulit karena siswa ini tidak memiliki niat untuk sekolah, sehingga tantangan terbesar kami adalah bagaimana membuat mereka tertarik dengan KBM yang kami berikan. Kalau kelas kami yang ada di Pakis dan Dau itu kan memiliki semangat yang tinggi untuk belajar namun dari segi ekonomi tidak mampu, sedangkan siswa yang ada di Desaku Menanti dari segi perekonomian tidak mampu ditambah lagi mereka tidak memiliki keinginan untuk sekolah lagi,” pungkas Yusmin. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :