Pelajaran Agama Jangan Setengah-setengah


MALANG - Aksi teror yang mengancam masyarakat di sejumlah daerah beberapa waktu lalu, membuat resah dunia pendidikan. Pasalnya, pelaku teroris juga tidak segan mengajak keluarga termasuk anaknya mengikuti aksi penyerangan tersebut. Hal ini tentu harus diantisipasi dengan peran penting lembaga pendidikan dalam mengedukasi doktrin radikalisme yang harus dijauhi.
“80% muslim tapi tidak diajarkan islam komprehensif, sehingga dimanfaat kelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak ada ayat Alquran dan hadist yang mengajarkan orang islam melakukan pengrusakan tempat ibadah, termasuk menyakiti anak-anak dan wanita. Berarti pelakunya tidak paham islam,” ujar Pakar Kebijakan Publik UB, Dr Suryadi MS kepada Malang Post, kemarin.
Terbukti, minimnya pendidikan agama menjadi faktor utama ketidakpahaman sejumlah orang tidak dapat membedakan aksi jihad atau teror. Sehingga, penting untuk memberi pemahaman Islam secara komprehensif dan terbuka pada seluruh komponen masyarakat. Solusinya, masyarakat islam Indonesia dibikin paham agama secara komprehensif.
“Selama ini, berdasar pengalaman saya pada jenjang SD-SMA, saya tidak merasakan Islam diajarkan memadai. Bahkan sampai sekarang, perkulihaan mata kuliah hanya satu semester dengan dua SKS saja, terkadang di perguruan tinggi juga masih diajarkan cara wudhu,” bebernya.
Pendidikan agama menjadi penting, terlebih pemahaman Islam sebagai agama yang menyentuh aspek kehidupan mulai dari hukum, politik, ekonomi, dan budaya, termasuk pengajaran jihad. Sesuai tingkatannya, pelajaran agama tentu berbeda mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Selain itu, pengajaran jihad dan toleransi harus tetap diajarkan bukan malah dihilangkan.
“Dalam pembelajaran agama sejak dini untuk konteks anak-anak, mereka tentu diajari proses pembelajaran ibadah, tapi seiring pertumbuhannya, mereka harus diinput ajaran islam secara komprehensif. Yang lebih konyol, saat tenaga pengajar justru mengeliminir kurikulum jihad. Padahal, ini justru penting diajarkan sebagai salah satu hal pokok  dalam islam, bermakna dakwah maupun perang agar mampu memahami islam secara komprehensif,” tuturnya.
Paham radikal adalah saat dimana jihad diplesetkan dengan orang yang punya kepentingan buruk. Sehingga orang yang tak paham agama secara komprehensif dapat dengan mudah terprovokasi. Belum lagi soal toleransi di tengah masyarakat yang hingga kini pemahamannya adalah menyamakan semua agama agar seluruhnya rukun.
“Toleransi itu ketika berada di tengah agama yang berbeda-beda tapi saling menghormati, dan  terbangun persatuan karena adanya perbedaan, bukan agama semua disamakan. Sehingga toleransi dan ukuwah juga perlu diajarkan dengan tepat. Selain itu, penting bagi lembaga pendidikan dapat memonitoring seluruh peserta didiknya. Hindarilah belajar agama dalam konteks tertutup dengan organisasi legal, formal, dan terbuka,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) UB, Ir. Achmad Wicaksono, M.Eng., Ph.D menegaskan penting bagi tenaga pengajar mampu memberikan contoh pada peserta didik dengan adanya filter yang digunakan sebagai pembeda antara yang benar dan salah. Tak hanya pembelajaran agama yang perlu ditekankan, soal manajemen pendidikan, mata kuliah kewarganegaraan dan Pancasila perlu tingkatkan. Hal ini digunakan untuk pemahaman yang netral dan tidak radikal.
“Jika di perguruan tinggi ada sekolah kebangsaan, maka tidak menutup kemungkinan juga dapat diterapkan di tingkat sekolah. Sebab, untuk mempelajarinya butuh diskusi terbuka. Jika dimodifikasi dapat dikembangkan dalam bentuk kemah Sabtu Minggu untuk penanaman jiwa kebangsaannya,” tegasnya.
Pendidikan kewarganegaraan sangat penting ditingkatkan, terlebih saat ini doktrin radikal kemungkinan sudah dapat diterima oleh anak-anak.
“Bahayanya dalam lingkungan radikal bagi anak-anak akan sulit menjaga persaudaraan dengan doktrin yang tidak bagus. Maka harus disampaikan, mereka punya hak yang sama, tidak boleh saling membeda-bedakan, baik yang Islam maupun non muslim,” imbuhnya. (mg3/oci)

Berita Lainnya :