Ngaji Luar Sekolah, Harus Jelas Ustadznya


MALANG – Sekolah di Kota Malang saat ini getol membentengi siswanya dari radikalisme. Salah satunya adalah SMAN 9 Malang. Caranya dengan memperbaiki pola komunikasi antara orang tua dan sekolah menjadi bagian terpenting. Sekolah lainnya di Kota Malang juga memiliki strategi berbeda untuk menangkal paham radikalisme ini.
Ya, amat penting membentengi siswa dari paham radikalisme. Fenomena yang terjadi di SMAN 9, beberapa waktu lalu wali murid sempat merasa resah dengan perubahan anaknya yang tak langsung pulang seusai jam pelajaran. Rupanya mereka mampir mengikuti pengajian terlebih dahulu, padahal tidak ada kegiatan apapun di sekolah.
Orang tua tersebut lantas melaporkan kegiatan anaknya tersebut ke sekolah. Dengan sigap sekolah mengambil langkah menelusuri pengajian yang diikuti salah satu siswanya tersebut. Kemudian memberikan pemahaman kepada siswa. Bahwa untuk mengikuti kegiatan ngaji di luar sekolah, harus jelas siapa ustadznya, kitab apa yang digunakan dan siapa pemimpin lembaganya.
“Saya selalu sampaikan kepada semua peserta didik di SMAN 9 Malang apabila semua yang disebutkan tadi tidak jelas maka segera beralih, kalau ingin ngaji pindah ke tempat yang lebih jelas,” urai Kepala SMAN 9 Malang, Dr. Abdul Tedy, M.Pd.
Paham radikalisme bisa berkembang melalui kegiatan pengajian yang tidak jelas, lantaran biasanya kelompok ini menggunakan sistem sel per sel atau kamar per kamar. Alurnya mati dan berubah-ubah untuk memutus mata rantai. Sehingga SMAN 9 Malang selalu berupaya memperkuat pengetahuan religi yang sebenar-benarnya religi bagi siswa. Sekolah memawadahi semua agama dengan memberikan pemahaman bahwa religi adalah sebuah prinsip kehidupan.
Ia melanjutkan, penyampaikan mengenai paham radikalisme ini, sudah sering disampaikan kepada siswa didiknya. Kemudian paham radikalisme ini juga diimplementasikan ke dalam semua mata pelajaran termasuk penguatan pendidikan karakter dan sudah menjadi bagian dari keseharian.
“Misalnya perilaku bully yang kerap kali ada di lingkungan sekolah, ini kami pahamkan bahwa semua agama tidak mengajarkan tentang bully, karena perkembangan dari sikap bully ini bermacam-macam,” Tedy.
Menurutnya, inti dari radikalisme dan terorisma nanti, bisa berdasarnya suka membully. Sehingga apabila di lingkungan sekolah tidak ada yang namamya bully maka tidak akan ada terorisme maupun pembahasan mengenai radikalisme itu sendiri.
“Kalau dari sekolah kami menyibukkan peserta didik melalui beberapa kegiatan seperti pramuka, ekstrakurikuler, Pondok Ramadan serta peringatan hari besar keagamaan. Sehingga kelompok radikal sudah tidak ada tempat untuk menyampaikan paham radikalisme,” papar Tedy.
SMAN 9 Malang memberikan peran yang cukup besar kepada Badan Dakwah Islam (BDI) sekolah untuk mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan. Namun ketika anggota BDI akan mengundang pemateri, sekolah menyeleksi secara ketat tokoh tersebut.
Apabila tidak dikenal oleh sekolah terutama Kepala SMAN 9 Malang, maka sekolah akan menolak tegas. Kemudian diminta mengganti dengan pemateri yang direkomendasikan oleh sekolah. Karena apabila yang tidak dikenal memberikan pemateri kepada siswa dikhawatirkan ada ajaran-ajaran yang tak sesuai, dimasukkan disela-sela materi.
“Di sisi lain kami selalu mengimbau kepada anak-anak yang ingin mengikuti kegiatan keagamaan silahkan saja tetapi ketika ustadz atau pimpinan tersebut mengatakan kelompoknya yang paling benar itu pasti salah,” terangnya.
Kemudian jika sudah mengharamkan ustadz lain itu juga pasti tidak benar. Atau apabila menyuruh melawan orang tua misalnya, ada dawuhnya menyatakan “orang tua hanya perantara melahirkan” maka itu jelas sangat salah. Terlebih jika dalam suatu kelompok tersebut mengkafirkan orang lain, seperti itu tidak baik.
“Jika sudah seperti itu maka segera tinggalkan. Alhamdulillah dengan pemahaman-pemahaman tersebut siswa kami sudah mengerti mengenai paham radikalisme sehingga tidak ada satupun siswa yang terindikasi seperti itu,” pungkasnya.(mg7/ary)

Berita Lainnya :