Waspada! Benih Radikalisme Masuk Sekolah


MALANG - Sekolah di Kota Malang sudah mewaspadai gerakan radikalisme sejak tahun 90 an. Kepala SMAN 3 Malang Dra Hj Asri Widiapsari, M.Pd mengakui, gejala tersebut pernah dijumpainya. Kala itu, ia masih berstatus guru di SMAN 4 Malang.
“Saya pernah menjumpai siswa yang ketika mendengar suara adzan langsung meninggalkan kelas tanpa permisi terlebih dahulu kepada gurunya, padahal saat itu pelajaran sedang berlangsung,” ungkap Asri.
Diakuinya, pada tahun 90 an, aliran radikal menyerang dan meracuni siswa. Sehingga banyak siswa yang mengikuti ajaran tersebut yang bisa dikatakan melenceng dari agama Islam, namun untuk mencegah semakin meluasnya paham tersebut di lingkungan sekolah maka didatangkan seorang ulama untuk menetralkan kembali beberapa siswa yang terjerumus.
“Paham radikalisme itu ketika zaman dulu saya masih menjadi guru memang ada, kalau anak sekarang tidak ada karena berdasarkan pengalaman tersebut saya selaku kepala sekolah berusaha membentengi anak-anak dengan lebih selektif ketika menerima orang dari luar,” ujar Asri.
Seleksi ini dilakukan untuk menghindari siswa dari masukan paham radikalisme yang mungkin disisipkan oleh pemateri dari luar tersebut. Karena apabila sampai masuk ke siswa bisa membahayakan, sehingga SMAN 3 Malang berusaha melindungi anak-anak yang sudah baik dan sejalan dengan Agama Islam dari paham radikalisme supaya tidak merugikan banyak orang dimasa mendatang.
Selain itu, kegiatan Sie Kerohanian Islam (SKI) SMAN 3 Malang selalu mendapat pendampingan dari sekretaris bidang I. Hal ini dimaksudkan untuk memantau setiap penyampaian materi pada kegiatan tersebut supaya tidak menyimpang dari ajaran Agama Islam. Bahkan tokoh-tokoh pemberi materi selalu didatangkan figure yang benar-benar bisa diterima oleh semua kalangan.
“Namun kebanyakan dari lingkungan SMAN 3 Malang sendiri, karena guru agama kami sangat mampu untuk menyampaikan materi pada kegiatan-kegiatan keagamaan,” ujar Asri.
Menggalakkan literasi juga menjadi bagian dari menangkal radikalisme khususnya literasi digital yang saat ini sedang berkembang pesat. Siswa harus memahami mana berita yang benar atau mana berita yang isinya mengandung paham-paham tertentu. Terlebih media sosial sekang sedang gencar-gencarnya mengompori isu-isu radikalisme, hal semacam ini yang perlu diketahui oleh siswa supaya tidak sampai terjerumus.
“Kerja sama dengan orang tua juga sangat diperlukan, kalau komunikasinya jalan maka semua masalah termasuk radikalisme di sekolah insya Allah semua bisa teratasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MKKS SMAN, Drs. Tri Suharno, M.Pd, mengatakan, supaya tidak sampai terjadi radikalisme tersebut maka perlu ditingkatkan pendidikan Agama dan Kewarganegaraan. Apabila Agama Islam maka yang menjadi pegangan yakni Alquran dan Hadist yang didalamnya sudah banyak perintah dan larangan di dalam kehidupan manusia. Pendidikan Kewarganegaraan ini penting supaya antar umat beragama saling menghargai satu sama lain sehingga tidak sampai terjadi ketegangan yang merugikan banyak pihak.
“Tentu penguatan pendidikan karakter harus ditingkatkan pada masing-masing sekolah, semua orang juga harus memiliki rasa toleransi yang tinggi,” pungkasnya. (mg7/oci)

Berita Lainnya :