Belajar Asik dengan Vlog


MENGHINDARI kebosanan dalam perkuliahan pada mahasiswa, Fitria Earlike Anwar Sani SST Par MM, dosen cantik Unmer ini mengembangkan pembelajaran prodi manajemen pariwisata melalui vlog. Pengumpulan tugas tak lagi bersifat paper, tapi lebih kekinian dengan vlog yang juga dapat dinikmati oleh warga media sosial.

“Ujian saya model dengan vlog, akhirnya mereka dapat bebas berkreativitas, bahkan hasil karya mereka begitu luar biasa. Terlebih prodi manajemen pariwisata ini terkesan dengan traveling sehingga mereka juga dapat berkreasi melalui film pendek,” ujar Sekretaris Prodi Manajemen Pariwisata, Fitria Earlike Anwar Sani SST Par MM yang ditemui Malang Post, kemarin.
Earlike, sapaan akrabnya, mengaku selain menerapkan pembelajaran digital, dia juga mengedepankan keaktifan mahasiswa. Melalui diskusi serta ketangkasan kuis, membuat mahasiswa dapat mengasah kompetensi termasuk praktik.
“Selain praktek, agar kelas tidak monoton dan mahasiswa mengerti materi, maka saya juga menerapkan ketangkasan kuis. Materi yang didapatkan dari diskusi mahasiswa dikembangkan untuk mereka juga,” ulas mantan Diajeng Blitar 2006 ini.

Dosen yang baru saja diterima S3 Ilmu Pariwisata di Udayana Bali ini mengajar tiga mata kuliah yakni house keeping, manajemen pariwisata, dan bisnis pariwisata. Berangkat dari asisten dosen dan lulus dengan IPK 3.975, dia sudah mengajar di Unmer selama delapan tahun. Cita-citanya yang ingin menjadi profesor mendorongnya terus melanjutkan pendidikan tinggi, meski nantinya harus jauh dari keluarga selama mengambil kuliah di Bali.
“Dari dulu saya ingin menjadi profesor dan kebetulan melalui tes kemarin. Saya termasuk dari 22 orang terpilih se Indonesia yang dapat berkuliah di Udayana. Saya juga salah satu yang termuda dari peserta tes lainnya,” ujar wanita 28 tahun ini.
Ibu yang telah memiliki satu orang anak ini juga berkesempatan menyelesaikan hibah bersaing untuk Bantuan Fasilitas Kerja Sama Internasional (BKFSI) di Jepang. Earlike melancong ke Jepang khususnya Kanazawa University yang memiliki kurikulum match dengan Unmer.
“Soal budaya jangan ditanya lagi, mereka sangat menghargai kekaisaran. Belum lagi lingkungan yang bersih, membuat turis kagum. Berbeda dengan Indonesia, di Jepang sampai menginput budaya untuk diajarkan pada siswa kelas 1-4 sekolah dasar,” imbuh wanita kelahiran Blitar tersebut. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :