Mahasiswa Manajemen Wajib Kuasai IT

 
MALANG – STIE ASIA gencar meningkatkan program technopreneur bagi mahasiswanya. Meski memiliki background manajemen, kompetensi IT harus dimiliki untuk menunjang era digital. Salah satu penerapannya dengan rutin mengadakan kompetisi Hackaton.  Kompetisi kolaboratif antara programmer, project manager, ICT researcher/enthusiast untuk membangun aplikasi (hacking) yang menyelesaikan masalah tertentu dilakukan dengan sangat singkat selama tiga hari alias marathon.
“Kendala mahasiswa mengikuti program dengan maksimal yakni karena mereka tak terbiasa dengan background IT, sehingga perlu latihan lebih jauh. Maka kami mengadakan kompetisi Hackathon kedua pada sekitar bulan Oktober nanti,” ujar Direktur Program ASIA, Risa Santoso kepada Malang Post.
Risa membeberkan, kompetisi Hackathon ini didampingi oleh mentor dari Malang Creative Fushion (MCF) dan terbuka untuk umum, agar seluruh ahli IT mampu berkolaborasi. Kompetisi pengembangan ide produk ini nantinya akan menghasilkan program aplikatif yang dapat digunakan oleh masyarakat umum. Dalam kompetisi ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan diri ke depan menjadi technopreneur.
“Kami akan mengadakan Hackathon kedua. Mahasiswa akan menghasilkan produknya bersifat software bersistem,” ulasnya.
Hackathon memberikan manfaat lebih untuk mengeksplore kegiatan mahasiswa sebagai penunjang teori yang diajarkan selama perkuliahan. Mahasiswa yang mengikuti pelatihan dapat mengembangkan produknya pada masyarakat. Meski diakui, setelah produk dihasilkan, mahasiswa kesulitan untuk mencari investor untuk pengembangannya. Tak hanya mahasiswa, dosen juga harus meningkatkan kompetensi IT nya. 
“Kendalanya, mahasiswa mengikuti proses inkubasi, investasi dengan rekan kerja, hingga mahasiswa mencari investor. Melihat kompetensi mereka, mahasiswa cukup kompetitif mengikuti perlombaan diluar,” bebernya.
Sementara itu, praktik bisnis juga diterapkan sebagai pembekalan agar mahasiswa mampu untuk survive di masyarakat. Bussines Practice (BP) berupa pameran, seminar, kuliah tamu, dan pelatihan yang dimasukkan pula dalam kurikulum sejak awal semester hingga semester empat. Sistem perkuliahan sendiri diterapkan dengan 70% praktik dan 30% teori.
“Dari penerapan praktik bisnis ini, mahasiswa dapat langsung melakukan karya mereka, mengembangkan brand, dan usaha kecil meskipun baru sebatas menjual. Selain itu, pembelajaran mulai dari merancang bisnis, memasarkan, hingga memodifikasi brand menunjang program entrepreneurship ASIA,” imbuh Biro Administrasi Umum ASIA, Ninik Kustiari. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :