Pengalaman Istimewa Diplomasi ke Yordania dan Palestina

 
AMBIL andil dalam proses seleksi mahasiswa Palestina, Maulina Pia Wulandari, merasakan tugasnya sebagai staf ahli wakil Rektor 4 serasa diplomat. Menyiapkan pertemuan dengan Rektor Jordan University of Science dan Technolgy (JUST) untuk membahas inisiasi kerja sama antara JUST dan UB membuat dirinya melancong hingga Jordan.
Ruang lingkup kerjanya tidak hanya sekadar "membantu" pimpinan dalam menyusun kebijakan yang berkaitan dengan kerja sama internasional. Namun juga harus tahu bagaimana cara melaksanakan kebijakan tersebut mulai dari menyusun rencana kegiatan, anggaran, pelaksanaan, komunikasi bahkan membuat laporan dan evaluasi.
“Tugas sebagai staff ahli wakil rektor bidang perencanaan dan kerja sama itu berat, tidak mudah, tapi mengasyikkan dan penuh tantangan. Pekerjaan saya membutuhkan energi yang luar biasa, harus serba bisa, cepat, dan punya daya analisis yang tinggi. Ibaratnya tangan saya harus 10 seperti dewi durga,” canda wanita yang akrab disapa Pia ini.
Sebagai staff ahli, dia dituntut untuk memiliki communication skill yang tinggi, kemampuan beradaptasi, dan strategi PR yang komprehensif. Tidak sekedar mendampingi pimpinan saat kunjungan kerja ke luar negeri dalam rangka menjalin kerja sama tapi juga harus mampu menjadi tim lobbying nya universitas. Salah satunya, saat kunjungan kerja Rektor dan rombangan ke Jordan beberapa waktu lalu.
“Saya harus tahu betul bagaimana cara melobi dan bernegosiasi dengan pihak-pihak pemegang otoritas di Kerajaan Jordan dan Palestina. Luar biasa banget dinamikanya, dalam hitungan menit ke menit bisa berubah-ubah kondisinya. Saya harus punya plan A sampai Z dan harus responsif,” tutur wanita penyuka anggrek itu.
Ketika mengurusi para peserta interview seleksi beasiswa MUPHRA 2018 dari Palestina untuk datang ke Jordan juga melalui proses yang alot. Sehingga dibutuhkan strategi yang bagus dan kerja tim karena tidak mudah mendatangkan warga negara Palestina datang ke Jordan. Begitu pula saat UB ingin mengunjungi camp pengungsi Suriah di Yordania.
“Saya harus mengalami serangkaian lobbying yang cukup alot dengan pihak kementerian luar negeri Kerajaan Yordania untuk mendapatkan izin masuk yang ternyata tidaklah mudah. Segala kemungkinan harus benar-benar diperhitungkan terutama keselamatan dan masalah perizinan karena bisa jadi para peserta interview itu tertahan di perbatasan Yordania-Israel dan tdk bisa masuk ke Yordania,” beber wanita lulusan S3 di Australia ini.
Mungkin orang lain berpikir menjadi staff ahli ini enak dan "fancy" karena sering berpergian ke luar negeri. Tapi pekerjaan ini menurutnya tidak se "glamour" yang orang kira. Bahkan jadi staff ahli juga harus tahu etiket pergaulan internasional, mengerti karakter orang dengan budaya yang berbeda, bahkan harus mengerti juga masalah cara memilih busana agar tidak "ndeso" dan salah perilaku, sehingga tahu bagaimana menempatkan diri.
“Tentu saja suami dan anak-anak yang mengizinkan saya mengemban tugas ini. Saya sangat beruntung dan bersyukur. Mudah-mudahan saya dapat mengemban tugas ini dengan lebih baik untuk kemajuan UB di dunia internasional,” tutup wanita kelahiran Semarang ini. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :