Calon Guru Dikenalkan Soal HOTS

 
MALANG – Penerapan kurikulum 2013 oleh Mendikbud, nyatanya juga berpengaruh dalam pengembangan kurikulum yang harus ditempuh mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maliki. Dengan meningkatkan empat kompetensi berupa pendidikan karakter, 4C, literasi, dan Higher Order Thingking Skill (HOTS), mahasiswa perlu terus mengasah pemahaman konsepnya.
“Penerapan kurikulum 2013, dalam dunia perkuliahan otomatis langsung berpengaruh pada konsep pembelajaran mahasiswa. Sehingga diintegrasikan langsung dengan pengembangan kurikulum 2013 revisi dalam mata kuliahnya,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maliki, Dr Agus Maimun MPd yang ditemui Malang Post, kemarin.
Agus melanjutkan, selain secara teoritik pendidikan karakter juga ditanamkan pada mahasiswa dengan konsep karakter religius. Karakter ini berupa rajin beribadah, sikap simpati, empati, tawakal, serta akhlak baik yang lainnya. Pada konsep 4C yakni creative, critical thinking, collaborative, dan communicative, mahasiswa akan diberlakukan lebih banyak konsep diskusi kasus untuk mengasah kompetensinya.
“Lebih banyak studi kasus dalam bentuk tim, sehingga mahasiswa mampu berpikir kreatif, kritis, komunikatif, serta bekerja tim untuk mendiskusikan berbagai hal. Nantinya itu yang akan diterapkan saat mereka menjadi guru,” tuturnya.
Pendidikan karakter berupa melatih pemahaman membaca tingkat tinggi juga diterapkan untuk mengasah pikiran mahasiswa secara terbuka. Terlebih saat ini, mahasiswa juga sangat penting memiliki kompetensi membuat soal sistem HOTS. Dalam mata kuliah evaluasi pembelajaran, mahasiswa dilatih kompetensinya dalam membuat soal sistem HOTS yang lebih banyak mengungkap sisi bagaimana dan mengapa.
“Meski dalam penerapannya yang sempat menimbulkan pro kontra, namun sebenarnya soal konsep HOTS sangat baik disajikan. Sejauh ini, Agus menilai kompetensi mahasiswanya sudah baik saat kurikulum ini diterapkan mulai semester empat. Menurutnya, sesuatu yang baru perlu pembelajaran secara serius dan harus meningkatkan kebiasaan membaca pada mahasiswa,” tandasnya.
Saat ini, menjadi guru memiliki persaingan yang cukup luas sebanding dengan kebutuhannya. Pasalnya, lulusan non guru juga berpeluang menjadi guru melalui pendidikan profesi guru selama satu tahun serta program matrikulasi non keguruan. 
“Saya tidak mempermasalahkan persaingan yang cukup luas dan beragam. Tak mustahil lulusan non kependidikan dapat belajar dan meningkatkan kompetensinya sehingga mampu menjadi guru, sehingga yang terpenting adalah kualitas,” imbuhnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :