Penelitian Pupuk dan Jagung UB Diminati Menpan


MALANG – Kementrian Pertanian RI menggencarkan moderenisasi pertanian pada tingkat perguruan tinggi untuk mewujudkan pertanian mandiri. Mengawali reformasi mental SDM dengan demosi atau mutasi pegawai, Menteri pertanian (Menpan) juga menggiring civitas akademika melalui gerakan pemuda pertanian (Gempita). Bahkan, Menpan mengapresiasi hasil penelitian dengan membeli jagung dan dekomposer dalam kunjungannya di UB.

“Saatnya kami masuk kampus untuk menunjukkan capaian Indonesia, agar mampu membangun generasi pertanian yang optimis. Selama ini, bertani dianggap sebagai status sosial rendah. Sehingga kami juga mulai membentuk gerakan pemuda petani,” ujar Menteri Pertanian RI, Dr Ir Andi Amran Sulaiman MP usai memberi kuliah tamu yang bertajuk Membangun Pertanian Mandiri dan berkelanjutan di era industri 4.0 di Widyaloka.
Andi melanjutkan, UB menjadi salah satu perguruan tinggi luar biasa dengan banyak penelitian langsung yang dihasilkan. Sehingga memotivasi civitas akademika untuk menjadi generasi pertanian yang berkualitas melalui modernisasi pertanian. Hal ini mutlak, karena dengan adanya modernisasi dapat menurunkan biaya produksi, plenting indeks, serta mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahterahan petani. Menpan juga membeli hasil penelitian jagung dan pupuk UB yang langsung dikontrak.
“Di Brawijaya ada jagung dan pupuk yang luar biasa. Jika pupuk tersebut dapat meningkatkan panen 40%, saya akan kontrak untuk 200 hektar. Pesan untuk akademisi kampus harus dapat mengubah pertanian ke depan dengan hasil teknologi baru yang dihasilkan di kampus. Antara pemerintah, akademisi, dan pengusaha harus saling bersinergi,” ungkapnya.
Hasil pertanian UB berupa jagung ketan dan jagung ungu memang cukup menarik perhatian Menpan. Pasalnya, jagung yang berbasis healthy food ini tak hanya enak tapi juga memiliki kandungan yang baik untuk tubuh. Bahkan, kedua jagung yang telah diteliti sejak 2009 ini baik jika dikonsumsi rutin penderita diabet. Setiap hektar lahan dapat menghasilkan jagung sebanyak delapan ton yang juga telah dijual ke wilayah kota Malang dan Batu.

“Jagung ini selain enak dan lembut juga mengandung protein dan vitamin D yang tinggi, bahkan dapat digunakan untuk pengganti nasi dengan karbohidrat yang rendah juga dapat dikonsumsi untuk penderita diabetes. Kita dikontrak Menpan untuk 100 hektar, belum memenuhi jika lebih dari itu,” ulas Dr Ir Arifin Noor Sugiarto MSc.
Tak hanya jagung, Menpan juga membeli kedua produk agen hayati Orhizo yang dapat meningkatkan hasil pertanian 40%. Selain itu, dekomposer yang merupakan produk lokal dengan kandungan mikroogranisme ini mampu membunuh pupuk secara alami.
“Cara penggunaannya yakni lima ml cairan dicampurkan satu liter air, kemudian dapat disemprot atau disiram pada tanaman, tergantung jenis tanaman. Agen hayati ini mampu membunuh musuh secara alami. Tadi Menpan juga membeli produk kami,” tutur Hamam Abdullah Rizki, Mahasiswa S2 Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman UB.
Sementara itu dalam paparannya, Menpan mengungkapkan akan terus melakukan reformasi mental SDM pertanian dengan demosi atau mutasi kepada 1.295 pejabat dan sanksi bagi pelaku pungli di pemerintahan. Hal ini diyakini dapat membantu pegawai yang dimutasi untuk mendapatkan posisi tepat baginya sehingga mampu membangun semangat kerja baru. Konsistensi kebijakan, keteladanan, dan kecepatan mengambil keputusan berdampak pada peningkatan profesionalisme pegawai. Sehingga pendapatan pertanian dapat meningkat hingga Rp 316 triliun per tahun. Ke depan bahkan, Indonesia akan mengupayakan peningkatan ekspor bawang putih, kelapa dalam, dan kopi.(mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :