Unitri Dampingi UKM Bumbu Pecel


MALANG - Masyarakat home industri bumbu pecel di wilayah Kecamatan Blimbing sering mengeluhkan produksi dan pemasaran produk yang menjadi kendala pengembangan usaha. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi civitas akademika untuk memberi solusi terhadap permasalahan yang timbul melalui program kemitraan masyarakat. Salah satunya Unitri yang menggandeng dua UKM di wilayah tersebut dengan pelatihan dan pemberian alat produksi.

“Fokus kami membantu pengembangan usaha dagang bumbu pecel karena dua mitra di wilayah Kecamatan Blimbing ini mengeluhkan kurang puas pada produknya, baik dalam hal proses produksi maupun pemasaran yakni packaging,” ujar ketua Prodi Teknik Kimia Unitri, S.P. Abrina Anggraini ST MT yang ditemui Malang Post, kemarin.
Dua UKM di wilayah Kecamatan Blimbing tersebut memang sudah berdiri lama, namun dinilai masih belum berkembang pesat. Faktor utamanya adalah dalam hal proses produksi bumbu pecel yang terkendala alat manual yakni wajan penggorengan. Proses pembuatan bumbu pecel yang manual menggunakan wajan penggorengan membuat pelaku UKM lebih sering tak dapat memenuhi pesanan.
“Proses pembuatan bumbu pecel secara manual lebih sering membuat pelaku UKM tak dapat memenuhi pesanan. Sehingga, kami membantu pemberian mesin berupa alat sangrai kacang tanah yang berkapasitas 5 kg dan kami memesannya selama satu bulan. Jika proses produksi lebih cepat, pemesanan terpenuhi, sehingga hasil ke depan dapat lebih meningkat,” beber wanita berjilbab ini.
Selain itu, keluhan UKM lainnya juga mengeluhkan terkait label expired dan kode produksi yang mudah terkelupas. Hal ini menyebabkan tidak awetnya produk dan kekhawatiran ada pedagang nakal lain yang mengganti label expirednya. Pihaknya juga menyalurkan bantuan mesin continous band sealer yang menunjang proses packaging lebih cepat.

“Kode produksi banyak yang terkelupas, sehingga dikhawatirkan pedagang lain yang bertindak nakal dengan memalsukan kode produksi dan label expired. Saya juga mengedukasi perubahan bentuk kemasan agar lebih awet dengan diganti dari mika menjadi alumunium voil. Kemasan juga dilengkapi dengan dus kecil sehingga lebih lama expirednya,” ulasnya lagi.
Wanita kelahiran Banjarmasin ini mengaku usai membuat proposal dan pengajuan alat untuk memfasilitasi UKM, dia berkomiten melakukan pendampingan terhadap pelaku home industri tersebut setidaknya selama satu tahun sampai pada tahap mandiri. Program ini dikembangkan dengan pemberian pelatihan dan penyuluhan dalam skala kecil UKM yang praktis dan mudah diterima masyarakat.    
“Kami dalam pengembangan ilmu juga memberikan pelatihan cara menyusun pembukuan manual sederhana, karena biasanya mereka menulis pembukuan campur aduk antara usaha dan rumah tangga. Sehingga kesulitan menentukan target penjualan,” ungkapnya.
Selain itu, dua UKM di wilayah Kecamatan Blimbing tersebut juga diberikan pendampingan dalam hal pemasaran berbasis online melalui e commerce. Sebab, di era digital pemasaran online juga menunjang pendapatan selain penjualan secara konvensional.
“Targetnya adalah peningkatan pendapatan pada dua pelaku UKM bumbu pecel di wilayah Kecamatan Blimbing, sehingga kesejahterahan lebih baik. Tentu kami akan terus melakukan pendampingan mulai dari penggunaan alat yang diberikan sekaligus perawatan alat agar tidak cepat rusak, serta evaluasi pemasaran UKM tersebut,” imbuhnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :